Rekomendasi

28 Negara Ikut Asian Fisheries Society di Denpasar

Senin, 28 Agustus 2017 : 17.26
DENPASAR - Fish Health Section - Asian Fisheries Society (AFS-FHS) menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan event 3 (tiga) tahunan Symposium On Disease On Asian Aquaculture yang ke-10 (DAA10).

"Dipilihnya Indonesia tak lepas dari keberhasilan dalam pencegahan dan pengendalian berbagai penyakit ikan mendapatkan apresiasi dari masyarakat internasional," jelas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di sela simposium di Kuta, Badung, Senin (28/8/2017) 

Simposium ini dihadiri sekira 400 orang peserta dari 28 negara di dunia serta dirangkaikan dengan pameran teknologi perikanan budidaya.

Diketahui, AFS-FHS merupakan wadah bagi masyarakat perikanan Asia yang fokus terhadap kesehatan ikan maupun hewan akuatik lainnya yang terdiri dari para ahli, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan stakeholders lainnya.

Organisasi ini didirikan pada tahun 30 Januari 1989 di Malaysia dan menyelenggarakan simposium DAA perdananya pada tanggal 26-29 November 1990 di Kuta, Bali, Indonesia.

Saat ini, AFS-FHS beranggotakan masyarakat dari negara-negara di Asia dan Indonesia termasuk ke dalam salah satu anggotanya. Pendirian AFS-FHS merupakan wujud kepedulian masyarakat dunia terhadap pencegahan dan pengendalian berbagai penyakit ikan dan hewan akuatik lainnya.

Sebagaimana diketahui, perubahan iklim global dapat menimbulkan adanya patogen atau penyakit ikan baru seperti AHPND, TiLV dan mungkin penyakit lainnya yang belum diketahui patogennya serta isu-isu lainnya yang dapat merugikan ekonomi di tingkat nasional dan internasional.

Dr. Phan Thi Van, Chairperson Fish Health Section - Asian Fisheries Society Executive Committee 2014-2017 menjelaska, bahwa penyelenggaraan event DAA merupakan wadah diskusi bagi para stakeholders baik ahli, peneliti, praktisi, mahasiswa, bahkan pebisnis terkait perkembangan isu terkini dalam pengelolaan penyakit dan kesehatan ikan.

Slamet mengungkapkan, melalui kegiatan ini diharapkan AFS-FHS dapat mendukung perkembangan akuakultur tingkat regional maupun internasional dimana akuakultur kedepan menjadi lebih strategis dalam perannya mewujudkan ketahanan pangan global.

Para pembudidaya ikan di Indonesia dan juga seperti di negara lain, dihadapkan pada berbagai serangan penyakit yang akan mengganggu dalam proses produksi.

"Kita sangat memerlukan bantuan para ahli penyakit ikan dalam menangani penyakit termasuk penggunaan obat ikan untuk mengurangi resiko dampak lingkungan sehingga kami menyambut baik kehadiran AFS-FHS dan penyelenggaraan even ini," tutup Slamet. (made/gun)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya