Rekomendasi

Innalillahi, Guru Spiritual Presiden Jokowi Tutup Usia

Sabtu, 26 Agustus 2017 : 23.01
Para santri Ponpes Kholifatullah Singo Ludiro berdo'a dengan membaca Al-Quran di dekat pusara KH Agung Suhada (foto Sapto Nugroho/hariankota)
SUKOHARJO - Putri sulung almarhum KH Agung Suhada (47) pengasuh Pondok Pesantren Kholifatullah Singo Ludiro, Mojolaban, Sukoharjo, Azka Aqiilah Nasjwa (21) mengklarifikasi kabar yang menyebutkan Ayahnya meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Kustati, Solo.

Menurutnya berita tersebut tidak sepenuhnya benar.

"Ini juga kami ingin sampaikan bahwa Abi (Ayah) meninggal dunia tidak di Rumah Sakit Kustati seperti kabar yang banyak disampaikan kepada masyarakat. Abi meninggal dunia, Sabtu (26/8/2017) sekira pukul 02.00 WIB dini hari dirumah sini (dilingkungan ponpes).

Semula hanya ada Umi (Ibu) yang kali pertama mengetahui jika Abi sudah meninggal dunia," jelasnya saat ditemui hariankota.com di rumah duka yang juga masih dalam lingkungan ponpes.

Azka mengungkapkan, saat itu oleh ibunya melalui jari tangan yang ditempelkan ke hidung Abi, di rasakan tak ada hembusan udara yang keluar, seketika dengan penuh kecemasan kemudian ibunya memanggil adik perempuannya yang nomor dua, Alifah Fatimah.

Menurut penuturan Azka, melihat kondisi seperti itu sebenarnya keluarga sudah menyakini jika Abi telah meninggal. Namun untuk memastikan akhirnya sekira pukul 04.00 WIB menjelang subuh, baru dibawa ke RS Kustati.

"Sesampai di rumah sakit, dokter pun tidak bisa berbuat banyak karena yang dibawa sudah menjadi jenazah. Dari situlah keluarga yakin Abi sudah tidak ada (meninggal dunia)," ucapnya.

Selain sesak nafas, sebut Azka semasa hidup, bapaknya memiliki riwayat banyak penyakit, diantaranya adalah penyakit gula, jantung dan yang terakhir pernah menderita tipes.

Dimata keluarga KH Agung Suhada merupakan sosok yang humoris dan romantis. Bahkan dibanding istrinya, Azka mengatakan lebih romantis bapaknya. "Tidak disangka Abi meninggal secepat ini," ucapnya lirih

Duka mendalam atas berpulangnya Kyai kharismatik Agung Suhada juga dirasakan keluarga Presiden Joko Widodo.

Tak hanya itu, para kolega yang terdiri pejabat hingga sesama tokoh ummat Islam serta ratusan santri juga ikut merasakan kehilangan figur yang selalu menjadi panutan di lingkungan ponpes selama ini.

Khususnya santriwan dan santriwati, sebagai bakti kepada almarhum, usai pemakaman sekira pukul 14.00 WIB, mereka secara bergiliran duduk disamping pusara yang berada dilingkungan ponpes, tanpa henti berdo'a dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.

Bahkan, mengingat luas lokasi makam hanya sekira 4 meter persegi, maka bagi yang akan berdo'a di dekat pusara terpaksa harus rela mengantri. (Sapto/fer)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya