Rekomendasi

Agar Tak Dibekukan, Ini Yang Wajib Dipenuhi Perguruan Tinggi Swasta

Sabtu, 02 September 2017 : 17.06
SUKOHARJO - Selain Perguruan Tinggi Negeri (PTN), keberadaan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia menjadi penting dalam mencetak generasi bangsa. Agar lulusan yang dihasilkan baik maka ada beberapa hal yang tidak boleh dilanggar oleh PTS sesuai Standar Nasional (SN) Pendidikan Tinggi (Dikti) 

Berbicara dalam seminar nasional dengan tema pengelolaan Perguruan Tinggi (PT) yang sehat menuju SN Dikti di kampus Universitas Veteran (Univet) Bentara, Sukoharjo, Inspektur Jendral Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Pendidikan Tinggi (Dikti), Jamal Wiwoho yang menjadi narasumber menegaskan banyak pelanggaran yang bisa membuat suatu perguruan tinggi menjadi tidak sehat.

"Contohnya, sering kosongnya jam perkuliahan, dosen jarang ada, tidak mempunyai mahasiswa, tidak rutin mengirimkan laporan ke dikti. Belum lagi dalam internal lembaga dan yayasan terdapat konflik, hal ini bisa membuat sebuah PT menjadi tidak sehat bahkan bisa di non aktifkan," terangnya

Beberapa kepentingan sering juga menjadi permasalahan di dalam pengelolaan sebuah PT. Antara kepentingan yayasan dan lembaga yang tidak sama juga bisa membuat jalannya administratif maupun teknis perkuliahan di kampus tidak sejalan.

"Mungkin kita sering mendengar Rektor tidak akur dengan ketua Yayasan, hal seperti ini harus dihindari. Kalau memang ada suatu permasalahan segera diselesaikan secara internal. Jangan sampai Dikti harus turun ke bawah dan menonaktifkan PT tersebut," tandasnya.

Sejauh ini lanjut Jamal, PTS yang ada di wilayah Surakarta terbilang cukup bagus dan tidak mempunyai penilaian buruk dalam pengelolaan PT. Jika ada permasalahan, Kemenristek Dikti mendorong agar sebisa mungkin di selesaikan secara internal.

"Jadi sifatnya Kemenristek Dikti akan melakukan sosialisasi dan advokasi. Paradigma lama kita sebagai pengawas yang selalu menakut-nakuti akan kami hilangkan, dan prinsip kami bekerja adalah sebagai mitra," tandasnya

Terkait pengembangan jurusan bidang profesi, Jamal menyampaikan, pihaknya mendukung pendirian program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di FKIP Univet.

Sementara, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Ali Mursyid menambahkan sejauh ini tata kelola kampus yang dipimpinnya sudah tergolong baik bahkan menempati peringkat PTS urutan ke 276 se Indonesia.

Saat ini jelasnya, seluruh jajaran Univet tengah fokus kepada bimbingan tekniks (Bintek) yang diberikan oleh Kemenristek Dikti dalam rangka menuju Akreditasi Universitas A.

"Untuk pengelolaan kampus, kami sudah tidak ada masalah. Fokus kami adalah meningkatan kualitas agar meraih akreditasi A, dengan mengikuti bintek yang diberikan oleh Kemeristek Dikti," tandasnya. (Sapto/rahayu)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya