Rekomendasi

Desak PBB Jatuhkan Sanksi, Korut Sebut Amerika Panik

Senin, 11 September 2017 : 22.18
SOUL - Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat akan membayar harga mahal, karena mempelopori resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap uji coba nuklirnya yang terakhir.

Saat ini Washington menekan pemungutan suara mengenai sebuah rancangan resolusi untuk  memberlakukan lebih banyak sanksi terhadap Pyongyang.

Pejabat Korea Selatan mengatakan, setelah uji coba nuklir keenam Korea Utara pada 3 September, yang dikatakan merupakan bom hidrogen lanjutan, pihaknya dapat meluncurkan rudal balistik antar benua meskipun bertentangan dengan tekanan internasional.

Amerika Serikat meminta Dewan Keamanan untuk memberlakukan embargo minyak ke Korea Utara, menghentikan ekspor utama tekstil dan pemimpin subjek Kim Jong Un dilarang melakukan transaksi finansial dan melakukan perjalanan, demikian seperti dirilis Reuters.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengatakan, Amerika Serikat “panik” untuk memanipulasi Dewan Keamanan atas uji coba nuklir Pyongyang, yang menurutnya merupakan bagian dari “tindakan membela diri yang sah.”

“Jika AS benar-benar melakukan resolusi ilegal dan melanggar hukum atas sanksi yang lebih keras, DPRK meyakini  Amerika akan membayar harga mahal atas tindakannya tersebut,” kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan yang dibawa oleh kantor berita resmi KCNA.

DPRK adalah singkatan dari nama resmi Korut, Republik Rakyat Demokratik Korea.

“Dunia akan menyaksikan bagaimana DPRK menjinakkan gangster AS dengan melakukan serangkaian tindakan lebih keras daripada yang pernah mereka bayangkan,” kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya tersebut.

Menurutnya, DPRK telah mengembangkan dan menyempurnakan senjata termo-nuklir super-kuat sebagai alat untuk mencegah pergerakan permusuhan dan ancaman nuklir yang terus meningkat di AS dan meredakan bahaya perang nuklir yang berkembang di semenanjung Korea dan kawasan ini.

Sumber : Reuter
(jum)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya