Rekomendasi

Diduga Mengandung Bahan Kimia, BPOM Sita Produk Jamu Tradisional di Pasar Nguter

Rabu, 06 September 2017 : 18.38
SUKOHARJO - Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang kembali melakukan operasi penggeledahan. Kali ini sebuah ruko di Pasar Nguter, Sukoharjo diduga memasarkan produk jamu mengandung bahan kimia yang membahayakan kesehatan manusia menjadi sasaran operasinya.

Kabid Pemeriksaan dan Penyelidikan BPOM Semarang, Seta Rina Pujiastuti saat di hubungi, Rabu (6/9/2017) membenarkan operasi tersebut. Dia mengungkapkan, penggeledahan dilakukan berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar yang curiga terhadap kandungan bahan ramuan yang dipakai membuat jamu. 

Dari hasil pemeriksaan, diketahui pemilik ruko berinisial MTM mengaku hanya sebagai pengedar atau penjual.

"Kami mendapat keluhan dari masyarakat sekitar. Kemudian kami turunkan tim untuk menggeledah ruko yang berada di Pasar Nguter, Sukoharjo pada, Selasa (5/9/2017) kemarin," ungkapnya

Informasi sementara, jamu tradisional produk kebanggaan Kabupaten Sukoharjo yang di duga telah dicampur bahan kimia ini terdiri berbagai jenis. Sesuai peraturan, penggunaan obat kimia seperti penghilang rasa sakit ataupun nyeri dalam jamu tradisional sangat tidak diperbolehkan.

"Tentunya akan ada efek bagi pengguna jamu tradisional seperti mual, muntah, ruam kulit. Jangka panjangnya, bisa terjadi penimbunan cairan, pendarahan lambung, reaksi hipersensitivitas, hepatitis, kerusakan hati, gagal ginjal, dan anemia," papar Seta

Dari hasil penggeledahan, sebanyak 88 jamu tradisional dalam kemasan siap jual diamankan dan dibawa ke Semarang. Barang bukti tersebut total senilai sekira Rp 150 juta. Menurut Seta, saat ini tengah diperiksa dengan uji laboratorium oleh BPOM Semarang.

Sementara terkait operasi penggeledahan produk jamu mengandung bahan kimia tersebut, Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disdagkop) Sukoharjo, Sutarmo, saat di hubungi untuk di konfirmasi melalui pesan singkat Whatsapp belum memberikan jawaban. (Sapto/gun)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya