Rekomendasi

Ini Teka-Teki Kerusakan Mesin ATM di Indonesia Terungkap

Sabtu, 02 September 2017 : 22.53
DENPASAR - Kerusakan jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sempat melanda Indonesia pekan lalu. Mayoritas mesin ATM tak bisa dipergunakan. Kerusakan ATM itu sempat membuat masyarakat merasa resah menyusul tak bisa dipergunakannyanya mesin ATM.

Hingga akhirnya teka-teki tak berfungsinya ATM itu terjawab.

Dari beberapa sumber yang berhasil dihimpun redaksi hariankota.com, teka-teki kerusakan jaringan ATM di Indonesia itu ternyata disebabkan kehancuran satelit Telkom-1 hingga berkeping-keping diluar angkasa.

Hancurnya satelit milik Indonesia itu terpantau jelas oleh ExoAnalytic Solutions perusahaan pelacak satelit. Seperti dikutip hariankota.com dari Space News, teleskop optik milih perusahaan pelacak satelit dan benda orbit asal AS, ExoAnalytic Solutions keakuratannya tak diragukan lagi.

Pasalnya, perusahaan tersebut menggunakan jaringan lebih dari 160 teleskop optik untuk memantau orbit geostasioner, sebuah lokasi setinggi 36.000 kilometer di sekitar Bumi lokasi sebagian besar satelit telekomunikasi.

Salah satu instrumennya di Australia Timur melihat satelit Telkom-1 hancur berkeping-keping. CEO ExoAnalytics Solutions, Doug Hendrix, menjelaskan bahwa teleskop mereka dapat mendeteksi aneka benda hingga berukur 0,4 meter dengan pemrosesan hingga 10 sentimeter.

"Apa yang Anda lihat tampaknya ada banyak bahan reflektif yang berasal dari pesawat ruang angkasa. Mereka bisa saja panel surya, bahan bakar, atau puing lainnya," kata Hendrix kepada Ars Technica dalam wawancara eksklusif, belum lama ini.

Dari pendeteksian perusahaan itu, menunjukkan Telkom-1 tidak bertabrakan dengan objek lain tetapi kerusakannya sangat parah.

"Saat kami menganalisis data setelah kejadian selama beberapa malam, kemungkinan kami dapat menentukan apakah satelit masih memiliki panel surya terpasang. Observasi teleskop kami menunjukkan bahwa satelit jatuh cukup cepat sejak kejadian itu," katanya.

Telkom pun langsung menanggapi kehancuran satelit Telkom-1. Vice President Corporate Communication Telkom Arif Prabowo mengatakan hingga saat ini, melalui Stasiun Pengendali Utama Satelit, Telkom-1 masih dapat menerima perintah dan mengirim sinyal telemetri satelit.

"Ini merupakan insiden kedua dalam kurun waktu dua bulan yang terjadi di orbit geostasioner. Pada 17 Juni 2017, operator satelit Luksemburg berbasis SES juga kehilangan sebagian kontrol terhadap satelit di ruang geostasioner," papar Arif.

ExoAnalytic pula yang mengamati fragmen dari satelit AMC-9. ExoAnalytic melacak sekitar 2.000 objek di orbit geostasioner, bahkan hingga yang berukuran 20 sentimeter.

Dari jumlah tersebut, sekitar seperempat adalah satelit gabungan aset militer, cuaca, dan komunikasi dan sisanya adalah puing-puing.

Kejadian puing yang tidak terkendali di orbit geostasioner relatif jarang terjadi, walaupun ada kekhawatiran bahwa mereka mungkin akan semakin terbiasa dengan lebih banyak satelit di luar angkasa.

"Di geostasioner ada banyak potongan puing yang tidak terlacak serta tidak dipancarkan oleh Angkatan Udara," kata Hendrix.

"Saya tidak tahu apakah ada yang tahu populasi sebenarnya di atas sana cukup baik untuk mengetahui apakah ini adalah tambahan yang signifikan," tambahnya tentang potongan-potongan yang nampak putus dari Telkom-1.

Telkom-1 diluncurkan pada 13 Agustus 1999 dengan umur desain 15 tahun. Saat hancur total, satelit tersebut berusia 18 tahun. Telkom berharap satelit tersebut bisa beroperasi normal hingga 2018 atau 2019, sebelum satelit pengganti, yakni Telkom-4 diluncurkan pada 2018. Namun, perkiraan meleset.

Adapun Menkominfo Rudiantara menanggapi laporan ExoAnalytic soal hancurnya Telkom-1 dengan santai. Chief RA mengatakan hal itu bukan urusan pemerintah. "Itu kan urusannya bisnis, urusannya Telkom dengan Lockheed Martin dan pasar," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah lebih fokus menyelamatkan posisi ruang satelit milik Telkom-1 yang kosong. Pemerintah tak ingin ruang satelit untuk Indonesia itu justru ditempati oleh satelit milik negara lain. (Akbar)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya