Rekomendasi

Keterlaluan, Anak SD Dihajar Hingga Muntah Darah

Selasa, 05 September 2017 : 14.11
KARANGANYAR - Hanya karena anaknya disenggol saat latihan sepak bola bersama, siswa salah satu sekolah dasar (SD) yang berinisial FC (12), warga Dukuh Talang, Desa Kalijirak, Kecamatan Tasikmadu, mengalami luka parah dan muntah darah.

Korban bahkan sempat menjalani perawatan selama tiga hari di salah satu rumah sakit akibat dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh ES (52), yang merupakan orang tua teman korban.

Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak, Selasa (5/9/2017) mengatakan, aksi dugaan penganiayaan tersebut dilakukan ES, karena tidak terima anaknya yang berinisial GL (12) disenggol dan mengenai hidung yang dilakukan oleh FC, pada saat latihan bersama.

Menurut Kapolres, antara korban dan anak ES, merupakan rekan satu tim di salah satu SSB yang akan tampil dalam pertandingan sepak bola dalam rangka HUT RI ke 72.

Awalnya, lanjut Kapolres, korban bersama satu timnya, termasuk anak tersangka latihan persiapan turnamen di lapangan Dukuh Tangkil. Pada saat latihan, tanpa sengaja tangan korban mengayun mengenai hidung GL hingga mimisan.

Oleh korban dan teman-temannya, GL petang itu batal tampil dan diantar pulang ke rumah. Hal itu membuat tersangka emosi dan langsung mencari korban di lapangan.

"Saat bertemu korban, ES langsung menghajar korban dengan menampar korban sebanyak dua kali mengenai kepala bagian samping di atas telinga. Saat itu ES mengenakan akik, akibatnya kepala korban sobek sedalam dua sentimeter," terang Kapolres.

Tidak hanya menampar, ES juga memukul bagian ulu hati korban hingga jatuh tersungkur. Korban langsung pulang. Sesampainya di rumah, korban langsung muntah dengan mengeluarkan darah.

"Korban sempat muntah darah dan menjalani rawat inap selama tiga hari di RSUD Karanganyar," tandas Kapolres.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, ES yang telah ditetapkan sebagai tersangka dijerat dengan pasal berlapis, pasal 80 UU NO 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman 15 tahun penjara.

Disisi lain, menurut ES, sebelumnya dia menerima laporan jika ada anak yang dipukuli hingga hidungnya berdarah lalu dirinya datang ke lapangan untuk mencari anak yang memukulnya.

"Saya tanya dia melawan lalu saya tampar. Terus dibawa ke rumah sakit, saat itu dokter di Puskesmas bilang tidak apa-apa dan saya bayar pengobatan sebesar Rp 35.000. Setelah itu didamaikan sama Pak RT. Tiga minggu kemudian saya didatangi polisi," akunya. (Isw)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya