Rekomendasi

Melihat Tingginya Mahar Pernikahan di Madina: Calon Istri Lulusan S1 Jauh Lebih Tinggi Dibandingkan Lulusan SMA

Jumat, 01 September 2017 : 20.16
MANDAILING NATAL - Setiap daerah tidak bisa lepas dari tradisi dan kebudayaanya. Ini karena tradisi tersebut sudah melekat pada masyarakatnya.

Termasuk juga tradisi pernikahan, bahkan tradisi seperti ini menjadi kebanggaan dan kekayaan yang harus tetap dijaga agar tidak hilang karena perkembangan zaman saat ini. Ada keragaman dalam tradisi pernikahan di seluruh Nusantara, begitu juga halnya di Mandailing.

"Tuor istilah mahar di Mandailing harus dipersiapkan oleh pengantin pria untuk mempersunting pengantin wanitanya. Tuor itu sendiri akan dibelanjakan oleh keluarga calon pengantin perempuan untuk kebutuhan dan keperluan barang-barang perabot setelah mereka memulai keluarga kecil" dijelaskan Sapar (57) yang baru saja menikahkan anaknya, Jumat (1/9/2017)

Tuor di Mandailing memang relatif mahal, namun tidak ada indikatornya taksiran mahar. Bisa dinilai mahar di Mandailing berdasarkan tingkat pendidikan dan pekerjaan wanita itu sendiri persis seperti adat bugis.

Di bugis sendiri pendidikan S1 di tuori 50 juta, S2 75juta dan ditambah dari pekerjaan wanita itu yg hendak di lamar. Di Mandailing juga sudah sama halnya dengan daerah-daerah lain yg mahal mahar perempuan.

Hidayat (27) mengatakan saat dirinya menikah tahun lalu dengan mahar Rp30 juta. Mahar itu jauh lebih ringan dikarenakan istrinya tenaga honor. Berbeda dengan mahar temannya yang melamar wanita lulusan S1 meski belum bekerja seharga Rp45 juta yg belum kerja namun sudah S1.

Sapar menambahkan, Belum lagi topot kahanggi (keluarga baru di desa mempelai perempuan), yang mencapai satu juta yang diserahkan kepada anak boru dari pengangtin wanita itu sendiri. Ambat-ambat juga bahagian dari adat Mandailing

"Ambat-ambat oleh anak namboru, ini memang terlihat guyonan dan lucu-lucuan tapi ini merupakan adat. Biasa ini terlihat seperti lelang dan tawar-menawar tapi biasanya Rp 500,- jebol juga, yang jelas ini dari kantong mempelai pria," tambah Sapar lagi

Administrasi untuk KUA juga bagian dari pengeluaran yg harus di storkan ke BRI,

Masih Sapar, bila adakan resepsi pernikahan atau pesta (orja) jelas akan menambah pengeluaran lebih. Dalian Natolu (kahanggi, Anak boru dan mora) harus diangkat agar suatu pesta bisa terlaksana dan ditambah lagi undangan yang lain.

"Mendirikan suatu pesta tidak nilai yg murah, 2 kambing yg cukup umur saja sudah 7 juta, belum lagi beras cabe dan bahan lainnya jebol juga belasan juta," jelas Sapar

"Suatu pesta kurang lengkap tanpa hiburan, biaya hiburan organ 2,5jt sampai 7jt cukup mahal juga," keluh Sapar. Di tempat yang berbeda, Ustadz Efendi menjelaskan tentang Mahar dan pernikahan.

"Saya melihat dan semua juga melihat bahwa kebanyakan orang saat ini berlebih-lebihan di dalam meminta mahar dan mereka menuntut uang yang sangat banyak (kepada calon suami) ketika akan mengawinkan putrinya, ditambah dengan syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Apakah uang yang diambil dengan cara seperti itu halal ataukah haram hukumnya?" Ucap Ustadz

"Yang diajarkan adalah meringankan mahar dan menyederhanakannya serta tidak melakukan persaingan, sebagai pengamalan kita kepada banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini, untuk mempermudah pernikahan dan untuk menjaga kesucian kehormatan muda-mudi.

Para wali tidak boleh menetapkan syarat uang atau harta (kepada pihak lelaki) untuk diri mereka, sebab mereka tidak mempunyai hak dalam hal ini," paaparnya

"Ini adalah hak perempuan (calon istri) semata, kecuali ayah. Ayah boleh meminta syarat kepada calon menantu sesuatu yang tidak merugikan putrinya dan tidak mengganggu pernikahannya. Jika ayah tidak meminta persyaratan seperti itu, maka itu lebih baik dan utama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya [An-Nur : 32]," tambahnya lagi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu. “Artinya: Sebaik-baik mahar adalahyang paling mudah”

Ustadz Efendi menjelaskan, Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menikahkan seorang shahabat dengan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, ia bersabda. “Artinya: Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi”.

"Mahar yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri-istrinya pun hanya bernilai 500 Dirham, yang pada saatini senilai 130 Real, sedangkan mahar putri-putri beliau hanya bernilai 400 Dirham"

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yg Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tuladan yang baik”.

"Ayat yg lain juga menjelaskan, [Al-Ahzab : 21] Manakala beban biaya pernikahan itu semakin sederhana dan mudah, maka semakin mudahlah penyelamatan terhadap kesucian kehormatan laki-laki dan wanita dan semakin berkurang pulalah perbuatan keji (zina) dan kemungkaran, dan jumlah ummat Islam makin bertambah banyak. Semakin besar dan tinggi beban perkawinan dan semakin ketat perlombaan mempermahal mahar, maka semakin berkuranglah perkawinan, maka semakin menjamurlah perbuatan zina serta pemuda dan pemudi akan tetap membujang, kecuali orang dikehendaki Allah," tambag Efendi

Masih Ustadz Efendi, nasehat saya kepada seluruh kaum Muslimin di mana saja mereka berada adalah agar mempermudah urusan nikah dan saling tolong menolong dalam hal itu. Hindari, dan hindarilah perilaku meununtut mahar yang mahal, hindari pula sikap memaksakan diri di dalam pesta pernikahan.

Cukuplah dengan pesta yang dibenarkan syari’at yang tidak banyak membebani kedua mempelai. Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum muslimin semuanya dan memberi taufiq kepada mereka untuk tetap berpegang teguh kepada Sunnah di dalam segala hal.

"Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah," Pungkas Ustadz Efendi. (Umar/Rahayu)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya