Rekomendasi

Pewarta Foto Gelar Pameran Foto "Di Mana Garuda"

Senin, 04 September 2017 : 23.30
YOGYAKARTA - Pameran foto bertema 'Di Mana Garuda' bakal digelar selama sepekan pada Selasa, 5 September hingga Rabu, 13 September di Bentara Budaya, Yogyakarta. Sebanyak 47 foto tunggal dan delapan foto cerita dipamerkan oleh anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta.

Ketua PFI Yogyakarta, Tolchan Hamid berharap melalui karya foto-foto para fotografer dari berbagai media massa itu ingin bercerita fenomena nasionalisme sosial budaya masyarakat saat ini yang kian luntur. Melalui foto diharapkan bisa tergerak untuk perubahan bangsa agar lebih baik.

"Tema 'Di Mana Garuda' menjadi bagian dari kegelisahan kami karena mulai  luntur sisi-sisi kemanusiaan, keberagaman, dan nasionalisme di lingkungan masyarakat," katanya, Senin (2/9/2017).

Dia menyampaikan para fotografer media cetak maupun elektronik tidak hanya memenuhi pekerjaan kantor semata dalam mengemban tugas.

Tapi, mereka juga menjadi bagian dalam menyadarkan dan mengembalikan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemuda, orang tua dan seluruh lapisan masyarakat untuk bisa menjaga keharmonisan, kerukunan, solidaritas dan rasa nasionalisme.

Budayawan Sindhunata menjabarkan maksud tema pameran ini menyatakan jika ada pertanyaan di mana garuda, mungkin ia hilang lalu dicari. Jika garuda adalah burung, maka dicari di pohon-pohon, atau di hutan-hutan. Tapi garuda bukan sekadar burung.

"Lalu apakah atau siapakah dia? Kita sendiri juga sedang meraba-rabanya. Syukur, jika situasi akhir-akhir ini sempat membuat kita jadi resah hingga berhasrat mencarinya," katanya.

Kalau tidak, kata dia, mungkin sebagian dari masyarakat sudah terlena, lalu lupa untuk kembali menangkapnya. Tema ini diharapkan bisa sedikitnya menangkap garuda itu dengan jepretan foto-fotonya.

"Ternyata di sana pun mereka tidak peroleh burung garuda. Namun, betapa pun tiada garuda di sana, kita merasa, sungguh kita menemukan garuda. Dan sebagian pertanyaan kita 'di mana garuda?, sedikit banyak terjawablah sudah," kata Sindhunata

Menurut Romo Sindhu, panggilan akrabnya, Garuda adalah kebersamaan. Dalam kebersamaan, orang saling menghargai dan menghormati.

Seperti tergambar pada karya foto, ketika ritual pindapata di Pecinan Magelang, perempuan-perempuan, siapa saja termasuk ibu-ibu Muslim yang berhijab, memberikan sedekah pada para biksu Buddha yang sedang berjalan untuk meminta-minta.

Tak ada rasa risih untuk memberi pada mereka yang berbeda keyakinannya. Karena kebersamaan, juga di hari raya Idul Fitri, orang-orang Katolik memberikan ucapan selamat Hari Raya kepada saudara-saudara Muslim.

Senyum dan kegembiraan terukir di wajah-wajah mereka. Maaf lahir batin tak hanya diberikan kepada sesama Muslim, tapi juga kepada saudara-saudara lain. Orang jadi merasa terlepas dari beban, terbebas dari kesalahan, karena menerima maaf dari saudaranya di saat warga Muslim merayakan hari raya kemenangan.

Menurutnya, garuda bisa digambarkan sebagai kerinduan. Kerinduan akan saat, di mana kebersamaan dan persatuan, kendati kemajemukan dan perbedaan, dapat dijaga dan diandalkan.

Kerinduan itu menjadi makin dalam, di saat orang mengalami, bagaimana kebersamaan dan persatuan itu memudar, seperti terjadi sekarang. "Karena rindu, orang jadi teringat akan tokoh seperti Gus Dur. Dan ingatan itu cepat melintas, ketika melihat Gus Dur yang tergambar di dinding mural," katanya.

Gus Dur adalah ulama dan pemimpin yang mati-matian berusaha mewujudkan kebersamaan dan perbedaan. Garuda melintaskan ingatan akan tokoh seperti Gus Dur, agar semua rindu akan kebersamaan yang takkan pernah boleh padam.

"Garuda adalah kenangan indah akan keharmonisan. Dan kenangan indah itu sampai sekarang masih mewujud dalam kenyataan. Di Lasem, rumah-rumah Cina berdampingan damai dengan rumah-rumah penduduk Jawa," kata dia.

Sejak abad ke-14, orang Jawa, Cina, dan Muslim memang selalu hidup sebagai saudara yang rukun satu sama lain. Di Lasem, yang pernah dijuluki 'Tiongkok Kecil', masyarakat Jawa dan Cina pernah bersama-sama memberontak melawan penindasan penjajah VOC.

Di bawah mayor Oey Ing Kiat, pendekat kungfu Tan Kee Wee, dan Adipati Raden Panji Margono, penduduk bangkit melawan Belanda, melakukan Perang Kuning (1740-1743).

Di Lasem juga biasa terjadi perkawinan campur antara orang Cina, Jawa, dan Muslim. Dan di kampung Kauman, ada pesantren yang berarsitektur Cina. Melihat Lasem, akan terbersit kenangan, betapa Garuda sebagai penjaga kerukunan dan harmoni sudah ada berabad-abad lamanya.

"Kenangan akan membuat kita bertanya, mengapa justru sekarang kita mau dilanda pertentangan etnis dan rasial? Memandang Lasem, pertentangan itu seakan tidak pernah mempunyai akar di tanah tempat kita hidup. Maka kalau ada, kiranya pertentangan itu berasal atau sengaja didatangkan dari luar, dan harus dilawan," tandasnya.

Foto-foto karya para fotografer media massa ini juga menggambarkan Garuda adalah penolakan terhadap kekerasan yang ingin memecah belah kesatuan. Karena itu, setelah bom diledakkan teroris di jalan Thamrin Jakarta, warga masyarakat, dari pelbagai lapisan masyarakat, agama dan golongan, datang beramai-ramai ke lokasi teror.

Mereka berdoa bersama dan menaburkan bunga, dan menyatakan, mereka tak takut teror, dan teror apa pun takkan bisa memecah persatuan.

Seruan yang sama juga dicanangkan oleh mahasiswa-mahasiswi Institut Seni Rupa Yogyakarta, saat mereka menolak masuknya organisasi massa berbasis agama, yang ditenggarai telah menyebarkan ajaran yang berpotensi untuk memecah belah persatuan.

Garuda membuat mereka tidak boleh diam, bila persatuan sedang terancam. Garuda adalah kegembiraan anak-anak merdeka. Kendati tak mempunyai tempat bermain, anak-anak bermain di depan mural tentang kebebasan hidup dalam alam demokrasi di tepi Sungai Code, Gondolayu.

Dan untuk memperingati kemerdekaan 17 Agustus, mereka berlomba untuk menang dalam pertandingan sepak bola lumpur. Pemenangnya hanya akan mendapat hadiah ayam dan bebek.

Namun mereka bermain dengan sepenuh hati, karena mereka adalah anak-anak Garuda, anak-anak merdeka. Di karya foto yang lain, kegembiraan buah kemerdekaan bukan hanya monopoli anak-anak, tapi juga hak mereka yang dewasa dan tua.

Mereka pun juga ikut berpesta dengan pelbagai lomba peringatan kemerdekaan. Di dusun Wonorejo Sleman, mereka  mengibarkan bendera merah putih di tepi Kali Boyong.

Kali Boyong sedang mengering di tengah musim kemarau. Keringnya cuaca tak menyurutkan kegembiraan dan semangat mereka untuk mengerek tinggi-tinggi kemerdekaannya.

Memang kemerdekaan tak boleh kalah oleh apa pun, juga oleh kekeringan musim. Justru kemerdekaan memacu mereka untuk bermimpi terbang bersama Garuda menuju ke masa yang lebih baik.

Maka di tengah perayaan kemerdekaan itu mereka juga berdoa, agar mereka kuat dan tabah dalam melewatkan keringnya musim kemarau.

"Garuda adalah kebebasan untuk menggunakan hak politik. Maka warga, siapa pun, tak peduli tua atau miskin, juga bersemangat untuk menggunakan hak politiknya. Keterbatasan sarana transportasi tak boleh menjadi halangan," kata Romo Sindhu.

Ternyata, Garuda tidaklah hilang. Ia tetap hidup. Karena itu sebagai simbol pun, ia terus dibuat dan diproduksikan. Di Karang Singosaren Banguntapan, Bantul, perajin logam Waridi tiap hari asyik membuat souvenir garuda. Sejak tahun 1980, pekerjaannya tak pernah berhenti.

Hasil karyanya digunakan untuk hiasan yang ditempelkan pada piala atau souvenir kenegaraan. Garuda juga ditatah dan disungging sebagai wayang kulit di Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri Bantul.

Di sana, garuda digambarkan sebagai Jatayu, burung raksasa, yang ikut berperan memerangi keangkaramurkaan Rahwana dalam cerita Ramayana. Ada juga Rumah Garuda, milik Nanang Rakhmad Hidayat di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Berbagai bentuk dan corak Garuda ada dalam koleksi Rumah Garuda. Eksplorasi wujud dan coraknya terus dicari. Ini menunjukkan, bahwa Garuda itu adalah harta yang tak pernah bisa habis digali.

Garuda juga menjadi inspirasi para seniman untuk membuat Gerakan Seni Rupa Kebangsaan. Sebanyak 50 seniman membuat seni mural di seputar dinding stadion Kridosono. Berbagai lukisan tertera di sana. Di antara pelbagai ekspresi lukisan itu selalu saja tertera Garuda.

Tampaknya, begitu orang berpikir dan berkarya untuk kebangsaan dan persatuan, tak mungkin orang bisa melepaskan diri dari Garuda. Garuda juga hidup dalam karnaval-karnaval. Ia menyapa orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Bagi anak-anak, garuda itu adalah boneka hidup yang akrab dan menyenangkan.

Masih banyak cerita tentang Garuda  di balik foto karya para wartawan ini. Pembukaan Pameran foto ini digelar pada Selasa, 5 September 2017 pukul 19.00 WIB. Lokasihya berada di halaman dan gedung Bentara Budaya Yogyakarta jalan Suroto Yogyakarta.

Foto-foto karya para pewarta ini dipamerkan hingga 13 September 2017. (dab/rahayu)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya