Rekomendasi

Pilot Projeck GasMin ESDM di Yogyakarta

Selasa, 12 September 2017 : 23.26
YOGYAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan uni coba konversi batu bara menjadi gas. Yogyakarta dipilih sebagai pilot projeck dalam penerapan perubahan pengunaan bahan ini.

"Konversi batu bara menjadi gas ini sasarannya pada kalangan Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Kecil Menengah (UKM)," kata Kepala Bidang Afiliansi dan Informasi Teknologi Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Sariman dalam sosialisasi dilakukan di Bantul, DIY.

Setelah uji coba ini, pihaknya berharap mengembangkan dengan sasaran rumah tangga. Proses konversi ini, kata dia, harus memiliki peralatan yang dinamakan gasifier atau gasifier gas mini (GasMin).

GasMin ini mampu mengantikan penggunaan BBM dan LPG oleh IKM/UKM yang rata-rata beroperasi minimal 8 jam untuk produksi.

Sebagai gambaran, untuk kebutuhan 15-20 kg/jam, hasil Gasmin setara 3-6 liter BBM atau 3 Kg/jam LPG, sedangkan untuk 50 kg/jam batu bara setara dengan 13 liter/jam BBM atau 10 kg/jam LPG.

"Penggunaan GasMin untuk IKM atau UKM seperti produk tahu, peleburan alumunim, penyulingan minyak atsiri, pengeringan padi, maupun yang lain-lainnya bisa menghemat biaya pembelian bahan bakar hingga 50%," ujaranya.

Program yang diinisasi sejak 2011 ini, mulai dikembangkan pada tahun 2015. Sedangkan tahun 2017 ini menjadikan DI Yogyakarta sebagai area ujicoba. Menurutnya sudah ada enam IKM dan UKM yanh mengimpletasikan teknologi ini dengan nilai Gasmin senilai Rp50 juta.

Keberadaan Yogyakarta sebagai pusat IKM/UKM nasional dan obyek wisata lebih mempermudah sosialisasi GasMin. Tahun iji ditargetkan empat IKM/UKM sudah mengunakan Gasmin. Sedangkan untuk tahun depan ditargetkan ada 50-100 GasMij di seluruh Indonesia.

Peneliti Bidang Batu Bara Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM Yeni Sofaetik menyatakan ada beberapa kendala yang nantinya akan dihadapi dalam perkembangan penggunaan Gasmin di masyarakat.

"Pertama, mahal. Kebanyakan pengusaha akan kesulitan untuk mememiliki alat ini. Sehingga kami mengundang perbankan daerah untuk membantu pembiayaan," katanya.

Kedua, tidak adanya dukungan dari pemerintah, menjadikan program ini bisa diterima masyarakat. Belajar dari program sejuta tungku berbahan bakar briket batu bara yang gagal, Yeni melihat kesalahan sepenuhnya ada di pemerintah terutama terkait kebijakan penyediaan bahan bakar. (dab/gun)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya