Rekomendasi

Saran Tak Digubris, Said: Presiden Panggil Dubes Myanmar

Selasa, 05 September 2017 : 21.22
JAKARTA - Presiden Joko Widodo berencana memanggil Duta Besar Myanmar di Indonesia bila dalam beberapa hari tak ada respon sama sekali dari pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan kekerasan terhadap etnis Rohingya.

Rencana pemanggilan Duta Besar Myanmar itu diutarakan langsung Kepala Negara saat bertemu dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj, di Istana Merdeka.

Menurut Said, pemanggilan tersebut akan dilakukan Jokowi apabila saran yang diberikan Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi tidak didengar oleh pemerintah Myanmar.

"Kalau sampai misi Bu Retno ini tidak didengar, atau belum ada hasilnya, bahkan semakin parah, maka Presiden akan mengundang Dubes Myanmar," kata Said Aqil usai pertemuan dengan Jokowi, Selasa (5/9/2017).

Indonesia telah menyodorkan sejumlah saran dan praksrsa kepada pemerintah Myanmar terkait dengan penyelesaian etnis Rohingya. Bahkan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah bertemu langsung Aung San Suu Kyi dan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Senior U Min Aung Hlaing.

Dalam pertemuan tersebut, Menlu memberikan lima saran penting kepada Aung San Suu Kyi, diantaranya; Pertama, Myanmar harus sesegera mungkin mengembalikan stabilitas dan keamanan.

Kedua, agar semua pihak di Myanmar menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Ketiga, Indonesia meminta Myanmar memberi perlindungan kepada semua warga di Rakhine State tanpa memandang suku dan agama.

Keempat, agar Myanmar membuka akses seluas mungkin untuk bantuan keamanan. Selain itu, rekomendasi Komisi Penasehat untuk Rakhine State yang dipimpin Kofi Annan agar dapat segera diimplementasikan.

Komisi itu merekomendasikan agar ditempuh langkah transparan untuk memberikan kewarganegaraan kepada kelompok Rohingya. Kelompok ini telah tinggal di Negara Bagian Rakhine dari generasi ke generasi, tetapi tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar. (uut/fer)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya