Rekomendasi

Pura Besakih Saksi Bisu Erupsi Dasyat Gunung Agung 1963

Senin, 27 November 2017 : 09.23
KARANGASEM - Kilas balik letusan gunung Agung di tahun 1963 masih terbayang dalam benak dan memori masyarakat Bali. Gunung Agung mulai memuntahkan asap pada Februari 1963 lalu meletus pada Maret 1963. Letusan terus berulang hingga Januari 1964.

Anehnya, Pura Besakih yang terbesar di pulau Bali dan masuk dalam pengawasan UNESCO dan terletak di kaki gunung Agung justru tidak tersentuh oleh bencana erupsi gunung Agung. Kondisinya masih berdiri kokoh.

Bahkan kala itu sebagian warga Hindu Bali mengikuti upacara Eka Dasa Rudra di Pura Agung Besakih pada hari Jumat (8/3/1963). Dimana masyarakat meyakini upacara itu digelar untuk keseimbangan alam kembali terjaga.

Bagi warga Hindu Bali, Pura Besakih adalah sebagai tempat bagi umat Hindu sembahyang pada Sang Hyang Widhi untuk memohon keselamatan. Berbagai upacara berlangsung di pura ini. Salah satunya Upacara Panca Wali Krama dilangsungkan 10 tahun sekali.

Yang terbesar adalah upacara Eka Dasa Ludra, yang diadakan 100 tahun sekali. Upacara Eka Dasa Ludra terakhir dilaksanakan pada tahun 1979.

Kini setelah puluhan tahun lamanya cerita haru dan bingar kepanikan warga kala itu kembali terngiang dalam benak masyarakat Bali. Salah satunya adalah Gubernur Bali saat ini, I Made Mangku Pastika yang saat itu baru lulus dari Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar).

Pastika ingat saat itu dirinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Kala itu Bali kondisinya gelap gulita meskipun waktu itu siang hari. Padahal jarak tempat tinggalnya sekitar 110 kilometer dari Besakih.

"Saya berada di Buleleng yang jaraknya 110 kilo. Situasinya sangat gelap," jelasnya dihadapan media belum lama ini.

Seingat Pastika, selain situasi gelap, juga terjadi hujan pasir. Banyak rumah yang terkena timbunan akibat hujan pasir dan kerikil. Banyak padi yang rusak, kondisi air juga kotor dan sangat keruh.

"Kondisi itu membuat panik karena gelap. Bahkan abunya katanya sampai Singapura," terang Pastika.

Senada dengan Pastika, Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet juga mengingat momen tersebut. Saat itu usianya baru sekitar delapan tahun dan tinggal di wilayah Klungkung yang jaraknya hanya sekitar 20 kilometer dari gunung Agung.

"Yang saya ingat kala itu ada upacara besar Eka Dasar Rudra sebelum gunung Agung meletus. Saya dan keluarga juga ikut. Dan saat itu terjadi hujan abu, pasir hingga kerikil di pura Besakih," terang Sukahet.

Setelah meletus, banyak warga yang mengungsi. Sebagian besar berada di rumah warga yang aman dari bencana termasuk juga balai banjar di sekitar Klungkung dijadikan lokasi pengungsian.

Kini setalah tidur sejenak, gunung Agung kembali menggeliat, hingga akhirnya ribuan orang terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman dari ancaman erupsi gunung Agung. (Martin/fer)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya