Rekomendasi

Buwas, Bongkar Pabrik Pil PCC, BNN Butuh Waktu Lima Bulan

Senin, 04 Desember 2017 : 15.05
Kepala BNN Komjen Pol Budi Wasesa menggelar jumpa pers terkait penggrebegan pabrik Pil PCC di Solo. (Sapto Nugroho)
SOLO - Komjen Pol Budi Wasesa mengungkapkan, untuk membongkar jaringan peredaran Pil PCC (Paracetamol Cafein Carisoprodol) hingga akhirnya menemukan pabriknya di Kota Solo, BNN butuh waktu sekira lima bulan

Hal itu disampaikannya saat jumpa pers dilokasi penggrebegan pabrik Pil PCC di jalan Setia Budi No. 66, Gilingan, Banjarsari, Solo (4/12/2017).

"Ini memerlukan waktu yang tidak sebentar hingga akhirnya anggota BNN di bantu Polisi setempat yakin untuk melakukan penggrebegan," terang Kepala BNN yang akrab dipanggil Buwas ini

Dari penggrebegan serentak di dua pabrik pembuat Pil PCC di Jawa Tengah, Semaramg dan Solo. BNN menemukan bukti untuk pabrik yang di Solo jumlah Pil PCC siap edar paling besar dibanding Semarang yang jumlahnya sekitar 3 juta pil.

"Semua kalau ditotal ada sekira 50 juta Pil PCC siap edar," tandas Buwas. Sedangkan otak dari pada pelaku pembuatan Pil PCC ini, oleh Buwas disebut bernama Joni dan Anggoro. Keduanya sudah diamankan.

"Joni ini berperan sebagai penyandang dana. Dia dalam satu bulan dari hasil penjualan Pil PCC mendapat keuntungan bersih sekira Rp 2,7 miliar. Ini berdasar temuan beberapa buku tabungan dan ATM. Terkait temuan ini, dugaan Tindak Pidana Pancucian Uang (TPPU) juga akan kami dalami," terang Buwas

Sedangkan Anggoro, semula saat mengetahui pabriknya di Solo dan Semarang digrebeg sempat akan kabur dari Tasikmalaya ke luar negeri. Namun berhasil di tangkap. Menurut Buwas, dari paspor Anggoro diketahui perannya selama ini berbelanja bahan baku Pil PCC dari luar negeri.

Catatan di paspor, Anggoro sering bepergian ke luar negeri diantaranya ke Cina dan India. Dari dua negara itulah kemungkinan bahan baku Pil PCC didatangkan ke Indonesia.

Buwas pun berharap kepada instansi yang berwenang dalam pengawasan obat dan makanan untuk ambil bagian melakukan pengawasan terhadap peredaran bahan baku pembuatan Pil PCC

"Kami pernah menemukan, ada12 ton bahan baku pembuat Pil PCC, namun pada akhirnya Polri dan BNN tidak bisa menangani lantaran terbentur kewenangan yang berada ditangan Menteri Kesehatan dan Badan POM," ujar Buwas

Mendapati kenyataan tersebut, Buwas pun tidak terlalu ambil peduli. BNN tidak akan surut langkah. Menurutnya, saat ini yang dibutuhkan adalah taggung jawab karena ini sudah menyangkut nyawa generasi anak bangsa.

Pil PCC ini target pemasarannya anak-anak usia sekolah SD dan SMP. Harga jualnya cukup terjangkau, sekira Rp 5.000 tiap butirnya. Sedangkan penyebarannya yang paling besar pemasarannya di Kalimantan dan Sulawesi.

Kepada para tersangka, yang telah tertangkap, Minggu (3/12/2017) kemaren, Buwas menyebut akan menjerat dengan pasal penipuan dan pemalsuan merk dagang, sembari menunggu pengembangan penyidikan lebih lanjut. (Sapto Nugroho/Irawan)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya