Rekomendasi

Situs Purba "Watu Kandang" Misteri Terselubung Di Lereng Gunung Lawu

Rabu, 28 Mei 2014 : 00.00
Published by Hariankota
Hariankota.com - Misteri yang berada di lereng gunung Lawu, masih banyak yang belum terpecahkan. Satu diantaranya adalah Situs watu kandang. Situs watu kandang  merupakan situs peninggalan masa megalithikum, jauh sebelum jaman candi Indonesia. Mungkin benar adanya kepercayaan Jawa bahwa peradapan pertama ada Gunung lawu.

Situs watu kandang terletak di sekitar areal persawahan warga, di desa  Ngasinan, Karangbangun, Matesih Karanganyar. Berbentuk batu yang di susun berdiri membentuk lingkaran dan juga kotak yang mirip dengan kandang. Maka dari itu  situs ini dinamakan Situs Watu Kandang.

Menurut catatan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah yang ada di papan informasi yang dipasang di lokasi situs Watu Kandang, bahwa batu yang berada di lokasi tersebut berorentasi pada puncak bukit dan gunung yang berada di sebelah timur. Yakni bukit Bangun, bukit Malang dan Gunung Lawu. Pada masa perundagian, terdapat kepercayaan bahwa di puncak gunung merupakan dunia arwah.

Bentuk peninggalan purbakala lainya, adalah Menhir (Tugu Batu), Menhir (tugu batu) besar dan berdiri tegak seperti tugu. Dimungkinkan dulunya merupakan tempat  suci, dan sebagai tempat pemujaan roh-roh nenek moyang.

Kemudian Dolmen (Meja Batu), berbentuk meja dan letaknya persis di tengah batu-batu yang di susun memutar. Diperkirakan sebagai tempat meletakkan sesaji kepada roh nenek moyangnya.

Lumpang batu(Tempat Menumbuk Padi). Bentuknya  besar dan melebar, di bagian tengahnya cekung dan dalam. Mungkin dulinya digunakan sebagai tempat menumbuk padi.

Watu Dakon ( Lambang Kesuburan), di tengahnya ada lubang seperti dakon (mainan anak-anak khas jawa). Bahkan ada cap kaki (tapak batu) yaitu Tapak Bima (werkudoro).

Punden Berundak dimana Batu Kadang ini berdiri condong sehingga seperti punden berundak yang biasanya disembah sebagai nenek moyang mereka.

Menurut Heri, sebelum Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah mengadakan penelitian dan menyatakan tempat tersebut sebagai cagar budaya masyarakat sering mengambil batu di lokasi yang merupakan areal persawahan. Mereka beranggapan itu adalah batu gunung biasa.

"Karena belum ada pemberitahuan dari pemerintah, warga banyak yang menggunakan batu di lokasi tersebut sebagai sebagai bahan bangunan rumah. Terlebih lagi batuan tersebut menyebar di area persawahan milik warga.

Namun menurut Heri setelah warga tahu itu berupakan batu kuno, mereka tidak berani lagi mengambil, atau memindahkannya meski batuan tersebut terletak di tanah milik warga.(Tanti)




Share this Article :