Rekomendasi

Penampakan Mbah Bebek Saat Gunung Slamet Erupsi

Jumat, 12 September 2014 : 20.30
Published by Hariankota
Fenomena unik tampak terlihat di atas puncak Gunung Slamet. Asap yang keluar dari kawah gunung tersebut tidak menggumpal seperti biasanya, tetapi berbentuk melingkar seperti cincin (foto:antara)
Ada yang menarik dari erupsi gunung api di Indonesia. Seperti halnya Gunung Merapi, kemunculan mbah petruk yang konon dipercaya sebagai penunggu puncak merapi tak bisa dipisahkan dari erupsi gunung teraktip di dunia ini.

Begitu pula dengan gunung Slamet. Fenomena unik tampak terlihat di atas puncak Gunung Slamet. Asap yang keluar dari kawah gunung tersebut tidak menggumpal seperti biasanya, tetapi berbentuk melingkar seperti cincin.

Seperti yang terlihat saat Gunung Slamet ini erupsi pada Kamis (11/9/2014) sekitar pukul 12.45 WIB. Ratusan masyarakat yang berkunjung di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, ini melihat fenomena menarik saat gunung ini mengeluarkan asapnya.

“Angel of duck, seperti malaikat bebek. Ada asap putih bulat yang cukup besar dan di bawahnya ada asap berbentuk bebek,” ungkap Suryono, pengunjung Gunung Slamet.

Munculnya Mbah Bebek, yang dipercaya penguasa Gunung Slamet ini mengulang seperti yang terjadi 15 Maret 2014, kata dia, juga terjadi hal yang sama. Namun, perbedaan kali ini, asap berbentuk bebek ada lingkaran atau cincin seperti malaikat di atas asap yang, menurut dia, berbentuk seperti bebek.

“Angel of duck" begitu masyarakat sekitar gunung slamet memberikan julukan. Warga sekitar mempercayai sebagai penguasa Gunung Slamet, ‘Romo Bebek’ sebutan yang sering dilontarkan oleh warga sekitar adalah ‘momongan’ (asuhan) dari Kyai Slamet, sebutan Gunung Slamet di era masa sekarang.

Kyai Slamet konon diangkat sebagai Tumenggung (pengawal) sang penguasa Laut Pantai Selatan, Ratu Kidul. Kyai Slamet diserahi Ibu Ratu Kidul untuk mengasuh dua gunung yang didekatnya, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang pernah muncul fenomena awan membentuk tokoh pewayangan yaitu Kyai Semar.


Foto: antara

Hapsoro, seorang paranormal di Pemalang saat dikonfirmasi hariankota.com  di rumahnya di Kota Pemalang menjelaskan, kemunculan Romo Bebek ini sebagai simbol perbuatan untuk ‘angon’ (saling mengasuh) sesama warga.

“Sejarahnya kidul (Ratu Kidul) dan Sungai Serayu. Romo Bebek diberikan ke Romo Slamet disuruh untuk angon. Angon dalam artian yang luas yaitu nuntun (mengarahkan) kepada hal yang baik. Apalagi paska Pilpres, suasana tidak semakin mendingin justru semakin memanas! Gonjang-ganjinge jagat!” ungkapnya.

Togok, merupakan tokoh pewayangan dewa yang kemunculannya di dunia hampir bersamaan dengan tokoh Semar. Namun, togok ini mempunyai karakter ‘mbodoni’ atau tahu tapi pura-pura tidak tahu. Layaknya pejabat politik saat ini. Demi kepentingan kelompok atau golonganya mereka mengesampingkan kepentingan rakyat.

“Bibirnya menyerupai tokoh wayang di Jawa seperti togok. Karakternya ‘orang tiyeng’ (pura-pura tidak mengerti) akan kebenaran kalau orang Banyumasan bilang. Makanya banyak pejabat sekarang seperti itu,” ungkapnya.

Jika kita sebagai manusia tidak saling mengasuh, mengasih dan mengasah (belajar bersama), maka bencana yang akan didapatkan di negeri ini. “Kyai Slamet kongkon angon supoyo siji ora ono sing siji kalong. Mulane dijenengke nylametke. Nyoh ki bebek limo diawasi, ojo sampek kalong mulane dadine slamet terus. Nek ono sing nyolong culigo, mengerikan (Gunung Slamet disuruh mengasuh bebek! Makanya dinamakan Slamet, supaya semua selamat. Jangan sampai ada korban jiwa. Kalau ada yang mencuri nyawa salah satunya akan mengerikan),”tuturnya.

Namun, Hapsoro meramalkan meski bergejolak Gunung Slamet tidak akan meletus besar. Sebab, dalam perjalanan sejarahnya Gunung Slamet tidak pernah mengalami erupsi besar.

“Meletusnya Gunung Slamet mengerikan. Lebih mengerikan dari Gunung Galunggung. Tapi tidak mungkin Gunung Slamet meletus,” ramalnya.

Hapsoro yang sempat bertemu almarhum juru kunci Gunung Slamet yang bernama Eyang Pramono itu juga meyakini bahwa semua gunung di Jawa khususnya secara gaib saling berhubungan dan mempunyai mitos masing-masing. “Semua gunung itu ada hubungannya dengan Ibu Ratu Kidul.

Slamet itu adalah pengasuh yang dipercaya momong. Kalau Slamet marah, meletus maka Sindoro Sumbing menangis. Karena sedih karena Sindoro, momongane nesu (marah) akan takut. Kalau ibu’e diperintah yo nesu. Podo wae. Merapi adalah besan, Slamet adalah Tumenggung,” tukasnya.

Hapsoro menambahkan, selain mitos penampakan Romo Bebek di puncak Gunung Slamet, penampakan bebek juga secara gaib kadang kala muncul di sepanjang Sungai Serayu yang membentang di sekitar kaki Gunung Slamet. Selain dalam bentuk kawanan bebek juga kadang muncul dalam bentuk kawanan kerbau di sepanjang hulu dan hilir Sungai Serayu.

“Jika muncul itu, maka akan ada peristiwa penting di negeri ini. Kawanan bebek atau kerbau muncul, tiba tiba raib dan menghilang entah kemana. Diyakini, bahwa Sungai Serayu itu jalan menuju istana Ibu Ratu Kidul di Laut Selatan tempat kerajaan gaib Ratu Kidul bertahta. Ibaratnya pasukan atau kawanan bebek atau kerbau itu sowan,”ucapnya.

Percaya tidak percaya, itulah mitos, kepercayaan terhadap keberadaan Gunung Slamet (Kyai Slamet), Romo Bebek, Ibu Ratu Kidul dan Sungai Serayu yang saling memiliki keterkaitan. Layaknya mitos Mbah Petruk dengan Loh Toyo sang penguasa Merapi, dengan fenomena alam Banjir Lahar Dingin serta cerita tentang; ‘Sabdo Palon Noyo Genggong’ yang menjadi mitos dan legenda di kaki lereng Merapi saat ini.(Dewi Astuti)







Share this Article :