Rekomendasi

Duuh..Masjid Ini Berubah Jadi Tempat Pemujaan

Sabtu, 27 Juni 2015 : 17.30
Published by Hariankota
hariankota.com- Masjid yang terletak di Desa Bakalan, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri ini dipercaya sebagai ‘Masjid Tiban ”.

Namun bukannya dipergunakan sebagai tempat beribadah, masjid ini justru lebih banyak digunakan untuk ritual bakar kemenyan dibanding melaksanakan ibadah ngaji atau sembahyang. Ironisnya, masjid ini kabarnya juga sering dikunjungi pejabat yang tujuannya bukan untuk dzikir dan berdo’a secara Islam.

Secara bangunan, kondisi fisik bangunan masjid tak jauh beda dengan masjid lainnya. Di Masjid ini ada tempat wudlu dan ruang ibadah serta panggung mimbar.

Konon, masjid ini dipercaya sebagai peninggalan para wali. Tak heran bila mayoritas majid ini banyak bangunan kayu jati peninggalan para wali. Tetapi, sekarang sudah direnovasi tembok permanen. Hanya beberapa komponen lama, seperti tiang utama dan balok-balok penopangnya masih asli kayu jati kuno . Komponen kuno inilah yang dianggap masyarakat masih keramat.

Kekeramatan masjid tiban ini, lebih didukung dengan pembangunan sebuah ruang berukuran sekitar 1 kali 1,5 meter di sebelah kanan masjid, untuk melakukan ritual tabur bunga dan pembakaran kemenyan.

Seorang pengunjung masjid, Jaimin (45) mengaku datang ke lokasi itu untuk kondangan, yakni meminta dilancarkan rejekinya. Tetapi saat ditanya permintaannya kepada siapa, ternyata bukan kepada Tuhan (Allah).

“Saya meminta dilancarkan dalam pekerjaan kepada mbah Imam Baweh, yang punya masjid ini,” katanya usai ritual membakar kemenyan. Selain membakar kemenyan, dalam ritual tersebut Jaimin juga menaruh sedekah nasi putih dan ceker (kaki) ayam. Maksud pemberian ini, Jaimin berharap dalam hidupnya bisa ‘ceker-ceker’ atau mencari makan seperti ayam.

Sementara itu pengurus masjid, Sarimin mengatakan, Masjid Tiban itu memang jarang untuk melaksanakan ibadah sholat. Bahkan selama bulan ramadhan, kegiatan taraweh hanya dibolehkan di serambi masjid.

“Pengunjung yang datang ke sini biasanya punya ‘panyuwunan’. Mereka kebanyakan orang dari luar. Bahkan ada yang dari Sumatera,” katanya. Peziarah masjid ini juga bukan sembarangan. Menurut Sarimin, kalangan aparat, pengusaha dan pejabat dari luar kota, banyak yang datang dan melakukan ritual permohonan kepada ‘Masjid Tiban’. (luk)
Share this Article :