Rekomendasi

Pertempuran 4 Hari Di Solo, Tentara Pelajar mampu Pukul Mundur Tentara Belanda

Minggu, 09 Agustus 2015 : 22.30
Published by Hariankota
pertempuran empat hari di Solo (foto:Arsip Nasional)
hariankota.com - Dedikasi tentara pelajar untuk tetap menjaga keutuhan berdirinya Republik Indonesia tak diragukan lagi. Setelah berhasil membasmi PKI dari Kota Solo, mereka dengan gagah berani mampu membuat tentara Belanda kala itu kocar-kacir.

Ketika Yogyakarta sebagai  Ibukota RI jatuh ke tangan militer Belanda pada Agresi Belanda II  tanggal 19 Desember 1948 yang bertepatan dengan permulaan Agresi Belanda II.

Tentara Belanda masuk ke Kota Solo tanggal 22 Desember 1948. Masuknya penjajah tentu saja mendapat perlawanan yang hebat dari beberapa kesatuan militer dan Tentara Pelajar yang tergabung dalam Brigade 17 Detasemen II.

Sejak itu Kota Solo dikuasai militer Belanda (KL) beserta bersama orang-orang Indonesia yang menjadi militer Belanda (KNIL). Sedangkan pasukan TNI dan TP ada di luar kota Solo. Kota Solo mulai diberlakukan jam malam mulai pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 06.00 WIB.

Tembak-menembak terjadi hampir setiap malam antara pasukan Belanda melawan TNI yang dibantu oleh Tentara Pelajar berperang secara gerilya. Kota Solo pun berubah menjadi lautan api.

Salah satu saksi sejarah mantan pejuang Tentara Pelajar (TP) Soehendro (89) mengatakan Slamet Riyadi sebagai pimpinan tentara di seluruh wilayah Surakarta bersama Mayor Achmadi sebagai komandan Tentara Pelajar Brigade 17 Detasemen II memerintahkan untuk mengadakan serangan umum terhadap Belanda di Kota Solo mulai tanggal 7 Agustus hingga 10 Agustus 1949.

Kekuatan militer TNI dan Tentara Pelajar (TP)  di semua penjuru luar kota Solo ditambah 4 sektor dari kekuatan TP dari Sektor Barat di Jenggrik, Sektor Utara di Ngemplak, Sektor Timur di Bekonang dan Sektor Selatan di Baki.



Bunyi meriam, dan juga pesewat cocor merah (pesawat Belanda) menembak dari segala arah, bahkan menembak markas dapur umum yang berada di daerah Gondang Solo.  Padahal dapur umum itu hanya berisi wanita dan anak-anak.

Militer Belanda menembak dengan  peluru-peluru meriam dari Beteng sebelah selatan (sekarang PGS) terhadap TNI/TP yang ada di Baki dan Nglangenharjo.

Pukul 5 pagi tanggal 7 Agustus 1948 tentara belanda sudah dikepung dari segala penjuru oleh TP dan juga TNI.

Semua markas Belanda di serbu, mereka tidak berani keluar karena sudah dikepung dan di serang dari empat penjuru kota Solo.

"Empat hari empat malam Belanda tidak berani keluar," terangnya.

Pertempuran berlangsung selama empat hari tanpa henti. Sebelum akhirnya pada tanggal 10 Agustus, pukul 24.00 WIB  lonceng di Panggung Sangga Buwono Keraton Kasunanan berdentang 12 kali, Belanda menyerah dan menawarkan gencatan senjata. Sekaligus mengakhiri segala macam bunyi tembakan.

"Terjadilah gencatan senjata. Kemudian di depan pintu sebuah foto studio “Wie Tjien” di jalan Coyudan Timur (kini Jalan Dr. Rajiman) ombongan tentara Belanda saling berangkulan dan bergandengan tangan dengan TNI dan TP minta di foto bareng-bareng. Pada pagi harinya tampak pasukan TNI dan TP masuk kota, di sepanjang jalan rakyat mengelu-elukan dengan berjabatan tangan dan berangkulan," ceritanya.

Setelah dilakukan gencatan senjata, maka pasukan TNI dan TP mundur dan beristirahat sejenak setelah hampir 4 hari berperang tanpa henti.

Namun pasca gencatan senjata pada  11 Agustus 1949, terjadi malapetaka tentara  "Baret Hijau" tentara Belanda dari KNIL (orang-orang Indonesia yang menjadi militer Belanda) melakukan pembantaian terhadap rakyat sipil di sekitar Pasar Kembang dan Pasar Nongko Solo.

Masih jelas dalam ingatan pasangan Soehendro dan istrinya sesaat setelah gencatan senjada terjadi tragedi berdarah pada tanggal 11 Agustus 1949. Tentara "Baret Hijau" tentara Belanda dari KNIL (orang-orang Indonesia yang menjadi militer Belanda) melakukan pembantaian terhadap rakyat sipil di sekitar Pasar Kembang dan Pasar Nongko Solo.

"Saat itu tentara pelajar sudah di suruh mundur oleh Gatot Subroto. Tentara baret hijau membunuh rakyat sipil dengan menggunakan klewang," jelasnya dengan nada miris.

Kondisi tersebut membuat Tentara Pelajar marah dan kembali menyerang tentara Belanda dengan semangat pantang menyerah.

Kondisi itu membuat Tentara Belanda ketakutan dan memaksa komando tentara Belanda di Semarang turun untuk mengibarkan bendera putih tanda menyerahnya tentara Belanda.

"Perdamaian akhirnya dicapai setelah Pak Slamet Riyadi berunding dengan Kol. Oohl yang datang dari Semarang. Sebagai kenangan didirikan Patung Perjuangan di Bundaran Tipes," pungkasnya.(Luk)
Share this Article :