Rekomendasi

Asal Mula Nama Kyai Balak

Kamis, 14 April 2016 : 22.12
Published by Hariankota
hariankota.com - Tempat Ziarah Ki Ageng Balak  di Mertan Bendosari Sukoharjo Jawa Tengah adalah satu lokasi yang sangat ramai di kunjungi masyarakat baik dari dalam maupun luar kota. Terutama pada bulan Suro yang dianggap sakral bagi masyarakat Jawa pada umumnya.

Menurut salah satu juru kunci makam bernama Heri Purnomo, makam ini dibuka pertama kali sekitar tahun 1924. Hal tersebut berdasarkan pengakuan seorang peziarah yang usianya sudah lanjut 100 tahun lebih.

Sejarah makam ini juga memiliki beragam versi. Salah satu diantaranya adalah cerita tentang siapa sebenarnya sosok ki Ageng Balak, yang katanya adalah seorang Pangeran dari Majapahit.

Heri yang sudah 12 tahun menjadi juru kunci  makam yang juga seorang kepala desa Mertan menyebutkan berdasar cerita yang beredar di masyarakat setempat, Ki Ageng Balak adalah  pendiri Desa Mertan. Semasa hidupnya beliau selalu  mengajarkan kebaikan, dan berbagi kepada sesama.

Sebab itulah kenapa banyak warga yang rela datang dan dan kadang menginap selama beberapa hari di areal makam. Mereka tidur di tempat terbuka meskipun ada penutup atasnya dengan beralaskan tikar yang disewa dengan harga Rp 5.000 semalam.

Terkait hal tersebut, Heri sebagai juru kunci secara pribadi memiliki pendapat yang berbeda tentang sosok siapa sebenarnya ki Ageng Balak yang sampai saat ini makamnya sering dikunjungi peziarah.

Menurutnya makam ki Ageng Balak ini tidak terkait dengan sejarah. Namun hanya cerita yang berkembang di masyarakat saja dan sampai saat ini diyakini kebenarannya baik oleh peziarah, juru kunci maupun dinas pariwisata.

"Dicari dari buku, babad manapun tidak akan ada, karena ini hanya cerita," tegas Heri.

Kalau sejarah ungkap Heri otomatis harus runut (urut) ada tahun, ditarik garis kemanapun pastinya akan nyambung. Ke atas pasti ada, kebawah pasti juga ada, kekanan ketemu, ke samping juga ketemu. Namun untuk suatu cerita pasti akan terputus dan tidak diketahui.

"Jadi cerita makam Ki Ageng Balak terputus. Misalnya dikatakan beliau putra Brawijaya V keraton Majapahit dari garwa selir. Namun selir yang mana, siapa nama ibunya. Garis keatasnya sudah terputus dan tidak diketahui. Berbeda jika itu sejarah pasti diketahui siapa nama ibunya," jelasnya.

Ki Ageng Balak sewaktu muda bernama Raden Sujono. Di Majapahit Raden Sujono menduduki jabatan sebagai Pradot Agung (hakim) yang bertugas menegakkan aturan di kraton Majapahit.

Melihat putranya sudah dewasa Prabu Brawijaya V memintanya untuk segera menikah. Namun Pangeran Sujono tetap menolak meski di paksa dan memilih pergi dari kraton secara diam-diam.

Dalam perjalannya mengembara Pangeran Sujono di hadang oleh dua orang begal (rampok) yang bernama   Simbarjo dan Simbarjoyo. Keduanya berhasil dikalahkan oleh pangeran Sujono dan akhirnya keduanya sepakat untuk mengabdi sebagai abdi dalem Pangeran Sujono.

Sepeninggal Pangeran Sujono, kondisi Majapahit mulai berubah. Semula adem, ayem, tentrem, gemahripah lohjinawi berubah menjadi pageblug (banyak musibah). Panen gagal, banyak hama wereng, timbul wabah penyakit.

Melihat kondisi Majapahit seperti itu akhirnya Brawijaya V berdoa pada Sang Hyang Widi. Karena saai itu Islam belum masuk. Islam ada setelah jaman kerjaan Demak, dengan rajanya Raden Patah.

Brawijaya V akhirnya mendapat petunjuk bahwa yang bisa menyelesaikan masalah tersebut hanya Pangeran Sujono. Setelah itu Brawijaya V memerintahkan untuk mencari keberadaan Pangeran Sujono dan berpesan untuk pulang ke Majapahit.

Namun sekali lagi Pangeran Sujono menolak untuk kembali dan hanya memberikan saran dan prasarana apa yang harius dilakukan Brawijaya V untuk memulihkan kondisi Majapahit seperti semula.

Setelah saran dari Pangeran Sujono di laksanakan ternyata lambat laun kondisi Majapahit pulih kembali seperti semula.

"Berawal dari cerita itulah, bahwa Pengaran Sujono bisa menyelesaikan berbagai masalah maka sampai saai ini makam Ki Ageng Balak terkenal dengan spesialis menyelesaikan masalah tanpa masalah (bagi yang percaya)," terangnya.

Sedangkan nama Ki Ageng Balak sendiri menurut cerita juru kunci Heri memiliki dua arti. Yang pertama mbalak dalam arti mbalelo, mbangkang (melawan). Karena disuruh nikah menolak, diminta pulang juga tidak mau. Melanggar perintah raja artinya membangkang.

Sedang arti Balak (mbalak) yang kedua adalah balak pageblug. Berarti Raden Sujono yang bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di Majapahit. Karena itu namanya terkenal sebagai Ki Ageng Balak dan nama aslinya mulai tersamarkan. Selanjutnya baca: Proses Ritual Di Makam Ki Ageng Balak (bersambung/Luk)


Sebelumnya:

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More