Rekomendasi

Makam Kyai Balak Banyak Warga Ngalap Berkah

Rabu, 13 April 2016 : 21.40
Published by Hariankota
hariankota.com - Wilayah Eks Karesidenan Surakarta memiliki banyak wisata religi. Setelah Gunung Kemukus mencuat dan sangat fenomenal dengan wisata ziarah plus-plus. Ternyata di Sukoharjo juga ada tempat sejenis. Hanya saja, meski serupa dengan Gunung Kemukus, lokasi ziarah ini tidak begitu terlihat dan terbuka seperti di Gunung Kemukus.

Salah satu diantaranya wisata ziarah religi di makam Kyai Ageng Balak di Desa  Mertan, Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pengunjung atau peziarah yang kerap menyambangi makam Ki Ageng Balak berasal dari banyak wilayah, mulai dari yang terdekat yakni Solo, Sragen, Pacitan, Yogya, Tasik, Garut, Jakarta bahkan dari luar Jawa.

Mereka datang dengan beragam maksud dan tujuan, mulai dari pengasihan, penglaris dagangan, naik jabatan, sampai untuk melamar pekerjaan. Bahkan saat musimnya pilihan kepala desa hingga pemilihan legislatif makam ini juga menjadi tujuan untuk tirakat.

Menurut cerita yang berkembang dan selama ini diyakini oleh masyarakat sekitar Ki Ageng Balak adalah sesepuh atau pendiri desa Mertan. Makam Ki Ageng Balak sendiri memiliki 5 orang juru kunci, yang selalu bergantian menerima para peziarah yang datang berkunjung.

Salah satu juru kuncinya adalah Heri Purnomo. Dulunya ayah dan kakek Heri juga seorang juru kunci. Kemudian dilanjutkan oleh keturunanya yang secara turun temurun menjaga dan merawat tempat peziarahan Ki Ageng Balak.

Heri yang juga seorang kepala Desa Mertan menceritakan kisah awal penemuan makam Ki Ageng Balak, sampai akhirnya menjadi lokasi ziarah di wilayah Sukoharjo.

Konon awal mula ditemukannya makam Ki Ageng Balak menurut cerita ada seorang penggembala sekaligus pencari rumput di lokasi tersebut, yang sudah menjelang isak masih berada di lokasi  tersebut untuk angon (menggembala).

Kemudian penggembala tersebut 'lamat-lamat' (sayup-sayup) mendengar suara, "hai keregudig (wong cilik) kok yahmene ijik nyambut gawe," kata suara tanpa wujud itu.

'Keregudig' menurut Heri penyebutannya jangan diputus, harus satu rangkaian karena artinya jelek jika diucapkan terpisah jadi harus di sambung. Arti keregudig sendiri merupakan sebutan raja atau bangsawan pada kawulanya (rakyatnya).

Heri sang juru kunci kemudian melanjutkan ceritanya bahwa penggembala tersebut mendengar suara yang mengatakan jika ingin hidupnya sampai anak cucu enak, coba untuk mengurusi saya (suara tanpa wujud). Tempatnya ada di gumuk (gundukan tanah tinggi) sebelah utara.

Penggembalanya tentu saja sangat ketakutan mendengarnya. Namun kesesokan harinya karena penasara kemudian mendatangi kembali lokasi dimana dia mendengar suara tersebut.

"Ternyata dibagian yang tinggi itu ada pohon yang diyakini sebagai sumber suara yang dia dengar," jelas Heri saat ditemui hariankota.com di kediamannya belum lama ini.

Akhirnya berawal cerita tersebut, bagai jamur di musim penghujan, penemuan makam yang dianggap keramat inipun menyebar luas. Dari mulut kemulut sampai saat ini lokasi Ki Ageng Balak menjadi salah satu tempat berziarah dan meminta berkah bagi orang yang mempercayainya.

"Makam ini mulai di buka sejak tahun 1924. Hal tersebut berdasarkan pengakuan dari salah satu peziarah yang dari awal sering lelaku di sini, mbah Untung yang usianya lebih dari 100 tahun," pungkasnya. Selanjutnya baca: Asal Mula Nama Kyai Balak (bersambung/Luk)

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More