Rekomendasi

Serupa Tapi Tak Sama, Pramunikmat di Makam Kyai Balak

Jumat, 15 April 2016 : 03.00
Published by Hariankota
hariankota.com - Keberadaan makam Ki Ageng Balak di Desa Mertan Bendosari, Sukoharjo Jawa Tengah sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tempat ziarah di Gunung Kemukus.

Namun yang membedakan jika di Gunung Kemukus terbuka secara gamblang karena terkait dengan salah satu persyaratan ritual yang dijalankan yakni harus berhubungan dengan pasangan tidak resminya. Sedang para peziarah yang datang ke makam Kyai Balak di Mertan Bendosari ini tidak ada ritual mengharuskan berhubungan terlebih dahulu setelah selesai berziarah seperti halnya Gunung Kemukus.

Nampak makam yang diyakini sebagai para peziarahnya mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah inipun tak luput dari serbuan para penjaja kenikmatan. Tak heran, tepat didepan jalan masuk menuju lokasi makam Kyai Balak, deretan bangunan berjajar memenjang . Bangunan semi permanen yang memiliki banyak pintu tersebut terlihat sepi dan tertutup rapat.

Menurut Yuni, salah satu pemilik warung yang yang ada di sekitar lokasi makam menyebutkan jika siang hari kondisinya memang nampak sepi.

"Biasanya ramainya menjelang malam. Namun kondisinya tidak ramai seperti biasa, soalnya wktunya musim hujan. Kadang seharian juga hujan. Makanya jarang yang mau keluar," terangnya.

Padahal kemarin adalah malam Jumat Kliwon. Namun peziarahnya sepi, biasanya pengunjungnya ratusan orang.

Senada dengan Yuni, Lurah Mertan Heru Purnomo yang juga salah satu juru kunci makam Balakan, membenarkan jika di lokasi tersebut memang ada pramunikmatnya. Namun tidak banyak dan juga terbuka seperti di Gunung Kemukus.

"Namun keberadaannya itu tidak terkait dengan prosesi ziarah atau ritual ziarah seperti di Kemukus. Tidak ada kaitannya dengan makam," jelasnya.

Menurut Heru kebanyakan mereka itu adalah pemain lama, artinya memang sudah lama beroprasi di sini. Jadi orang - orangnya itu-itu saja tidak ada pendatang baru.

"Seperti ada gula ada semut, dimanapun ada keramaian pasti ada yang ramai menarik orang untuk mengais rezeki. Dan kita memang tidak menutup mata. Wong kenyataan para PSK ini ya memang ada," jelasnya.

Di areal makam,para pejaja ini tidak bisa berkembang karena kondisi dan tempat serta lingkungan juga induk semangnya sudah penuh.

"Karena induk semangnya tidak menyediakan tempat. Jadi mereka menyewa ruangan kecil yang disekat untuk tempat mereka," terangnya.

Secara otomatis tempatnya sudah penuh. Jadi tidak mungkin akan terjadi penambahan penghuni lagi. Jadi penghuninya ya hanya itu-itu saja. Meski katanya Kemukus di tutup dan mereka menyebar ke berbagai lokasi.

Kebanyakan mereka adalah pendatang, bukan warga sekitar. Mereka menyewa ruang kecil yang disekat seharga Rp. 150 ribu/bulan.

Sebagai Lurah Mertan yang juga juru kunci makam Kyai Balak, Heri mengakui selama ini tidak pernah ada razia KTP atau pendataan dari Pemda. Padahal banyak warga asing (peziarah) yang bukan warga setempat. Kadang kala mereka menginap di lokasi makam dalam jangka waktu yang lama. Dan jumlahnya juga semakin banyak.

"Makan, tidur, mandi juga di lokasi makam. Saya sendiri juga heran dari mulai menjabat  pertama dari tahun 2002 sampai sekarang tidak pernah ada razia KTP bagi pendatang di sini," keluhnya.

Padahal saat ramai terkait penggerebekan teroris di desa Toriyo, Bendosari, pihaknya pernah sampaikan permohonan agarnya pendataan warganya. Tujuannya agar bisa lebih tertib serta Agar tidak disalahgunakan orang yang tidak bertanggung jawab.

"Namun selama ini  berulang kali permohonan adanya pendataan KTP, tidak ada respon sama sekali dari pihak terkait, " ungkapnya.

Untuk Patroli dan razia memang sering dilakukan oleh pihak terkait. Namun karena kondisi lingkungannya terbuka jika melihat patroli datang langsung kelihatan.

"Mereka bisa langsung melarikan diri, terlebih lagi lokasinya dekat dengan masjid jadi langsung lari semuanya," ceritanya sambil tertawa.



Sebelumnya:


(Luk)
Share this Article :