Rekomendasi

Klaten Miniatur Korupsi di Indonesia

Jumat, 10 Februari 2017 : 10.54
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Pasca menangkapan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap Bupati Klaten Sri Hartini yang kini non aktif, banyak dugaan kasus-kasus korupsi dan penyelewengan di wilayah itu mengemuka. Sri Hartini yang sudah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus jual beli jabatan, dikabarkan mengajukan sebagai justice collaborator kepada KPK

Tujuannya, membongkar kasus-kasus lain yang melibatkan banyak pihak pada kabupaten termiskin di Jawa Tengah itu. Salah satu tokoh aktivis anti korupsi di Klaten, Edi Setiono siap membantu dengan memberi data-data dugaan korupsi di Klaten.

Beberapa waktu lalu, salah satu putra Sri Hartini menemui dia di rumahnya yang tak jauh dari Alun-Alun Klaten. Tujuannya, untuk meminta data dan dokumen indikasi korupsi di Klaten yang melibatkan banyak pihak. Dengan senang hati, Edi memberikan data-data dan dokomentasi dugaan korupsi itu tanpa meminta dana sepeserpun.

"Saya berikan dokumen satu koper kasus-kasus di Klaten. Katanya mau dibawa ke Jakarta, saya persilahkan, saya hanya ingin Klaten bersih dari tindakan korupsi," tandasnya dalam diskusi publik bertema 'Transparansi Pengelolaan Kekayaan Daerah Kabupaten Klaten' di Yogyakarta, Kamis (9/2/2017).

Wartawan nasional (republika) yang sudah pensiun ini menyampaikan prilaku korup di Kabupaten Klaten terjadi di semua lini sejak lama. Celakanya, masyarakat seolah diam begitu saja ketika ditengarai ada tindakan korupsi yang terjadi. Prilaku korup yang diduga melibatkan pejabat Klaten, tak banyak yang berlanjut ke meja hijau.

Dia memberi contoh dugaan korupsi yang menyeret nama alm Haryanto (Suami Sri Hartini,red) terkait buku ajar tahun 2004. Kasus yang diduga merugikan keuangan negera 4,7 miliar ini sebenarnya sudah sampai persidangan. Hanya saja, kasusnya berhenti karena terdakwa meninggal dunia.

"Dugaan dana recovery dan rekontruksi pasca gempa bumi 2006 yang nilainya mencapai Rp 1,75 triliun, dugaan korupsi pembangunan beberapa pasar, dugaan korupsi bansos, dan masih ada lainya. Ada 10 kasus yang saya berikan," katanya.

Dia mengakui jika indikasi kasus korupsi di Klaten sudah mengurita sejak lama. Tak heran, dia melihat bahwa Kabupaten ini dikuasai oleh orang-orang tertentu saja. "Klaten itu miniatur korupsi di Indonesia. Segala macam tindak pidana korupsi ada di Klaten," tandasnya

Pihaknya sebenarnya ingin membongkar dugaan ijasah palsu yang dipergunakan Sri Hartini. Namun, karena sudah tertangkap KPK terkait kasus jual beli jabatan, niatan membeberkan ijasah palsu itu tak dilakukan. Namun, dia berharap penegak hukum memproses dengan seadil-adilnya terhadap Sri Hartini.

Jika nanti Sri Hatini menjadi justice collaborator, dia tidak yakin bisa membongkar kasus dugaan korupsi di Klaten tanpa bantuan banyak pihak. Untuk itu, Edi sangat mendukung dan memberi sekoper berkas dan data saat putra Sri Hartini memintanya.

Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Hifdzil Alim melihat ada kekuatan besar dibalik kasus yang menjerat Sri Hartini. Kekuatan besar itu seolah tidak terjamah oleh penegak hukum. Namun, Hifdzil tak menampik jika Sri Hartini menjadi justice collaborator, bisa mendobrak kekuatan besar tersebut.

"Dengan Sri Hartini menjadi justice collaborator, ini saat yang tepat untuk Klaten bersih-bersih dari dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum di Klaten," katanya.

Hifdzil punya catatan panjang terkait indikasi korupsi di Klaten. Dia bersama tim anti korupsi masuk ke Klaten sekira tahun 2009 silam. Setahun berikutnya, beberapa kasus indikasi korupsi diadukan ke Polda Jateng, Kejaksaan Tinggi Jateng, hingga KPK. Namun, tak satupun dari kasus-kasus itu diproses lanjut hingga meja hijau.

"Ada kekuatan solid untuk meloloskan kasus-kasus korupsi supaya tidak diproses. Semua laporan kita 'menthal' (balik,red), bahkan tim kita 'mreteli', tumbang hingga tinggal dua orang," katanya.

Harapan supaya membongkar kasus korupsi di Klaten, kata Hidzil sempat padam. Segala upaya sudah dilakukan, tapi belum membuahkan hasil yang diharapkan. Baru di tahun ke enam, Hifdzil yang juga sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bersama timnya memiliki harapan saat KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap Sri Hartini.

Hifdzil meminta mahasiswa dan juga aktivis anti korupsi di Klaten membuka kembali lembaran dugaan korupsi yang terjadi di Klaten. Pihaknya siap menampung data-data yang dokumen dugaan korupsi di Klaten untuk ditelaah dan diteruskan ke penegak hukum KPK.

Beberapa mahasiswa dari Kampus Widyadharma Klaten, aktivis di Klaten, serta sejumlah wartawan mengikuti diskusi itu. Selain Hifdzil sebagai salah satu panelis, Yoga Setyo Wibowo mewakili BEM Universitas Widyadarma Klaten, kemudian Nila Ardhianie dari Amarta Institute, dan Sulistyono mewakili wartawan sebagai pembicara. (dab)
Share this Article :

Berita Terbaru

Read More