Rekomendasi

Beras Premium Oplosan Terbongkar, KPPU Bidik Pemain Besar Lainnya!

Selasa, 25 Juli 2017 : 09.16
KARANGANYAR - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai praktik pengoplosan beras medium sangat merugikan konsumen. Tak hanya itu, perilaku curang tersebut juga sangat merugikan pelaku usaha lainnya.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf menjelaskan, saat ini pihaknya tengah melakukan penyidikan, apakah dugaan praktik tersebut dari sisi persaingan usaha. Ada Indikasi persaingan tidak sehat dalam kasus tersebut.

Dengan adanya temuan tersebut, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan menjadikan momentum tersebut untuk memperbaiki tata niaga beras di Indonesia.

"Karena tata niaga beras di Indonesia dicirikan rantai distribusinya panjang. Karena panjangnya itu maka membuat gap antara tingkat petani dan konsumen menjadi sangat tinggi," jelas Syarkawi Rauf seperti dikutip dari di Solo, Jawa Tengah.

Selain itu, dalam rantai distribusi yang panjang ada penguasa-penguasa pasar. Yakni orang-orang atau pedagang besar, atau penghilangan besar  yang mengusai pembelian gabah petani dan penjualan beras ke masyarakat.

Syarkawi juga menyampaikan, jika ada penguasaan yang dominan di pasar maka kemungkinan terjadinya persekongkolan. Baik itu persekongkolan penetapan harga di pasar atau persekongkolan dalam pengurangan pasokan.

Juga kemungkinan perilaku membagi-bagi wilayah pemasaran bisa saja terjadi. "Hal itu kemungkinan bisa terjadi karena pemainnya sedikit," tegas Syarkawi Rauf.

Karena itulah fokus utama KPPU akan mengarahkan proses penyidikan ini pada pemain-pemain besar. Panjangnya rantai distribusi beras yang sangat panjang membuat perbedaan harga yang sangat tinggi dari petani sampai ke tangan konsumen.

Berkaca dari proses tersebut tindakan yang paling substansial yang akan dilakukan KPPU adalah kejadian ini menjadi momentum memperbaiki tata niaga beras di Indonesia. "Salah satu caranya dengan mengurangi gap antara harga di tingkat petani dan harga di tingkat konsumen," lanjutnya.

Salah satu caranya, semisal harga gabah dari petani Rp 7000 per kilogram (kg) dan harga di konsumen mencapai Rp 10.500/kilo. Dari harga tersebut ada selisih Rp 3.500 dan selisih itu bisa itu bisa dialihkan ke petani, sehingga pembelian ke petani naik jadi Rp 8000 sehingga kesejahteraan petani jadi naik.

Selisih harga juga bisa untuk menurunkan harga di tingkat konsumen akhir sehingga jika saat ini jika harga dikisaran Rp 10.500 bisa ditekan menjadi Rp 9.000/kilo di konsumen akhir.

"Jadi petani, orang yang ada di rantai distribusi dan konsumen juga untung karena membeli beras dengan harga relatif murah. Karena itu perlu adanya efisiensi dalam rantai distribusi," pungkasnya.

Sumber:okezone
(jum)
Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners