Rekomendasi

Polisi Bongkar Penjualan Obat Aborsi Online

Rabu, 19 Juli 2017 : 19.03
SRAGEN - Para pelaku penjualan obat aborsi melalui media online yang diungkap Polres Sragen, dengan pelaku Yenni Eriyanto, warga Dukuh Kebon Agung, Kabaupaten Grobogan, Jawa Tengah, terancam pidana 10 tahun penjara.

Tidak hanya membidik para pelaku, bahkan pembeli pun, saat ini tengah di buru petugas. Para pembeli ini, dapat dijerat pasal pidana apabila terbukti melakukan aborsi dengan obat yang dibeli tanpa izin edar tersebut.

Hal tersebut ditegaskan kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman, melalui Kasat Narkoba AKP Joko Satrio utomo, Rabu (19/7/2017). Menurut Kasat narkoba, dari pengakuan tersangka, sudah ada tujuh pembeli yang menggunakan obat aborsi.

Ketujuh pembeli yang mayoritas perempuan muda dan sebagian berstatus pelajar itu diketahui berasal dari Sragen dan sekitarnya, serta Purwodadi.

"Kita mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap siap pembeli obat tersebut. Penyelidikan diperlukan untuk mendeteksi kemungkingunaan obat itu untuk menggugurkan kandungan. Jika terbukti aborsi, maka pembeli dapat bisa dijerat dengan pasal pidana," kata dia.

Dijelaskannya, berdasarkan barang bukti yang diamankan tim, terdapat bukti pengiriman barang melalui pengiriman jasa JNE atas nama Murniati. Nama ini diduga kuat menjadi salah satu pembeli.

Sebagaimana diketahui, Polres Sragen di sisi lain, mengungkapkan praktik jual beli obat aborsi di Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen. Modus yang digunakan pelaku, dengan menawarkan paket obat aborsi via media sosial Facebook (FB).

Tersangka mematok tarif bervariasi, tergantung usia janin yang akan digugurkan. Untuk janin yang terlambat satu bulan, paket obat dibandrol Rp 900.000, kemudian dua bulan Rp 1,3 juta dan terlambat 3 bulan Rp 1,5 juta.

Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman mengatakan, jaringan penjualan obat aborsi illegal itu dibongkar setelah melalui proses penyelidikan selama dua pekan oleh tim Cyber Patrol Satres Narkoba.

Dijelaskan Kapolres, tersangka Yenny, dijerat dengan Pasal 196 juncto 197 UU NO 36/2009 tentang Kesehatan, karena telah menjual obat-obatan tanpa izin dan tidak memenuhi standar. Ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 10 miliar. (Isw/gun)
Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners