Rekomendasi

Sampah Meluber Tak Terangkut, Warga Di Minta Kreatif

Minggu, 23 Juli 2017 : 15.32
SUKOHARJO - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo menghimbau, agar masyarakat dan pemerintah desa, untuk lebih kreatif mengelola limbah sampah rumah tangga. 

Terutama untuk mengatasi permasalahan di tempat pembuangan sementara (TPS) yang sering dikeluhkan lantaran kerap terjadi penumpukan sampah saat menunggu jadwal armada truk mengangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Jika disikapi dengan baik setidaknya secara ekonomi akan bermanfaat bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Kepala UPT Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Iin, menanggapi keluhan warga dua Dukuh, Butulan dan Sanggarahan, Desa Makamhaji terkait menumpuknya sampah di TPS hingga meluber menutup akses jalan antar dua dukuh tersebut

Diungkapkan Iin, saat ini armada truk DLH Sukoharjo ada 14 dan 4 unit armada kapasitas kecil. Menindaklanjuti keluhan warga, sebenarnya menurut Iin, sudah di upayakan dengan penambahan jam operasi armada truk di beberapa TPS.

"Kalau TPS yang di Dukuh Butulan itu, semula jadwal pengangkutannya seminggu 3 kali sudah kita tambah jadi seminggu 4 kali, tapi masih belum bisa mengurangi volume sampah yang ada," katanya.

Selain itu, pengelola TPS dengan DLH Sukoharjo dalam memberi informasi juga sering terlambat. Hal ini berakibat saat terjadi penumpukan timbunan sampah, pihak DLH yang harus menerima komplain.

"Jika dilihat dari bangunan TPS itu, sebenarnya dari awal sudah salah, bangunan kecil itu tidak layak untuk jadi TPS yang menampung dari beberapa dukuh. Selain itu masyarakat juga kurang tertib dalam kewajibannya untuk membayar retribusi," ungkapnya.

Agar persoalan sampah tidak terus menjadi permasalahan, DHL menghimbau pemerintah desa mengajak warganya untuk kreatif memanfaatkan limbah sampah yang sulit terurai seperti plastik untuk di buat sebuah kerajinan agar bisa punya nilai ekonomi.

"Saya mencontohkan di Kelurahan Ngadirejo itu, dari 30 RT, ada sekitar 32 bank sampah. Jadi masing-masing RT punya bank sampah. Nantinya sampah plastik itu bisa di jual sedangkan sampah organiknya dibuat pupuk kompos," tandasnya.

Pantauan di lokasi TPS Dukuh Butulan Desa Makamhaji, timbunan sampah tampak tumpah keluar dari bangunan tempat penampungannya.

Sebelumnya, warga Dukuh Butulan dan warga Perum Sanggrahan Permai mengeluhkan timbunan sampah yang meluber hingga menutup jalan kampung sejak beberapa pekan terakhir.

Warga yang nekat melintas harus ekstra hati-hati agar tak tergelincir jatuh ke dalam timbunan sampah.

Salah satu warga penghuni Perum Sanggrahan Permai, yang rumahnya hanya puluhan meter dari lokasi penampungan sampah, Joko (40), mengungkapkan, selama ini warga sudah berulang kali menyampaikan keluhan atas gangguan bau tak sedap yang bersumber dari luberan sampah tersebut.

Namun, menurut Joko, keluhan itu tak juga membuahkan hasil untuk mendapatkan solusi penyelesaian.

Frekuensi armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo dalam mengangkut sampah dari TPS untuk kemudian di buang di TPA yang tidak rutin tiap hari, dituding menjadi biang menumpuknya sampah.

"Kami sudah capek berulangkali menyampaikan kondisi ini, baik ke pemerintahan desa maupun ke kabupaten. Warga meminta supaya armada yang memuat sampah ditambah jadwalnya menjadi tiap hari," pungkas  Joko. (Sapto/dwi)

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners