Rekomendasi

5 Hari Sekolah, Menag Akui Banyak Kyai dan Ulama Tak Sepakat

Kamis, 10 Agustus 2017 : 21.12
YOGYAKARTA - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan banyak kyai, ulama, dan siswa didik yang keberatan dengan kebijakan lima hari masuk sekolah. Dia berharap kebijakan itu bukan kebijakan yang harus merata pada semua sekolah.

"Kalau diterapkan harus diberi kelonggaran bagi masing-masing sekolah, madrasah, dan pondok-pondok pesantren. Itu mungkin lebih arif dari pada dipaksakan tapi kenyataannya mendapat resistensi yang tinggi," katanya usai peresmian nama gedung di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, belum lama ini.

Lukman mengaku saat ini, banyak pihak sekolah yang sangat amat berkeberatan, khususnya madrasah diniyah, pondok pondok pesantren, para kyai, ulama, dan masyarakat dari orang tua wali murid. Sebab, kebijakan lima hari sekolah itu dianggap belum tetap diterapkan menyeluruh.

"Kebijakan lima hari sekolah itu akan mempengaruhi sistem pendidikan, pengajaran yang diajarkan di pondok pondok pesantren selama puluhan tahun atau sejak dahulu," jelasnya.

Lukman menambahkan, sebenarnya pemerintah tidak menerapkan lima hari sekolah. Yang ditekankan sesungguhnya adalah penguatan pendidikan karakter untuk siswa siswi anak didik.

"Kita harap jangan kemudian penguatan pendidikan karakter jni direduksi, dikurangi maknanya menjadi lima hari sekolah," katanya.

Penerapan lima hari sekolah itu menjadi sesuatu yang ditengah-tengah masyarakat menghadapi persoalan yang kompleks. Jadi poin pentingnya, kata dia, bukan pada lima hari sekolah, tapi bagaimana penguatan pendidikan karakter itu diterapkan dengan bijak. (dab/gun)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya