Rekomendasi

Dukhutan, Tawur Sesaji Warga Nglurah

Selasa, 08 Agustus 2017 : 21.23
Loading...
KARANGANYAR - Setiap tahun, warga masyarakat Dusun Nglurah, Kelurahan Tawangmangu, menggelar tradisi Dhukutan. Tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu itu, dilaksanakan setiap hari Selasa Kliwon Wuku Dukut yang merupakan hari pernikahan Kyai Menggung dengan Nyi Rasa Putih, sesepuh Dusun Nglurah.

Dalam tradisi ini, sebagai wujud rasa syukur, warga melakukan bersih desa dan membuat sesaji berupa hidangan dari pala wija, sayur dan nasi jagung (setiap akan dilaksanakan ritual Dhukutan menurut kepercayaan adat, segala bentuk sesaji harus dihindarkan dari beras, dan pada saat memasak tidak boleh dicicipi).

Sesaji kemudan dikumpulkan di rumah sesepuh desa untuk didoakan, mohon agar seluruh warga masyarakat mendapat keselamatan dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Puncak tradisi Dukhutan ini, diakhiri dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Selanjutnya sesaji tersebut dikirab menuju Situs Purbakala Candi Menggung. Di tempat inilah puncak ritual dilaksanakan, yaitu tawur sesaji oleh dua kelompok masyarakat. Sesaji tersebut dibawa oleh seorang laki-laki dewasa yang dianggap menjadi 'jago' dari desa masing-masing.

Setelah diberi doa, sesaji dijadikan satu dalam pincuk yang kemudian dibawa mengelilingi candi sebanyak tiga kali. Pada putaran keempat sisa sesaji serta pincuk-nya digunakan sebagai sarana tawuran antara kedua jago.

Tawuran tersebut merupakan puncak acara dalam upacara tradisi Dhukutan. Sebagai simbol pertarungan yang pernah terjadi antara Kyai Menggung dan Nyi Rasa Putih. Karwadi, salah satu tokoh masyarakat setempat mengatakan, tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu yang tetap dilestarikan sampai sekarang.

Menurut Karwadi, masyarakat setempat termasuk generasi muda, upacara Dhukutan merupakan peristiwa penting selain Idul Fitri yang tidak boleh dilewatkan semua warga, bahkan yang merantau di luar daerah.

Upacara itu diangap sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan dan berkah.

"Ini merupakan tardisi yang telah berlangsung turun temurun. Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur atas berlimpahnya hasil bumi," kata Karwadi, tokoh masyarakat setempat, Selasa (8/8/2017). (Isw/gun)

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners