Rekomendasi

Ke Pabrik Mi Lethek, Mbak Titiek Napak Tilas Perjuangan Soeharto

Kamis, 10 Agustus 2017 : 21.29
YOGYAKARTA - Putri Presiden RI Ke 2 Soeharto, Siti Hediati Hariyadi berkunjung ke rumah produksi pembuatan mi lethek di Dusun Benda, Desa Trimurti, Srandakan, Bantul. Pabrik yang masih menggunakan teknologi tradisional dengan bahan utama tepung topioka ini sudah ada sejak tahun 1940 an.

Bahkan, Soeharto bersama pejuang kemerdekaan kala itu pernah bersembunyi di pabrik itu saat melawan penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai negeri ini. Hal itu disampaikan penerus mi lethek, Yasir Ferry Ismatrada (42) saat menerima rombongan putri Presiden Soeharto ini.

'Menurut cerita, Pak Harto dulu pernah di pabrik ini saat memimpin perang melawan agresi militer II Belada," kata Yasir pada Titiek Soeharto, Selasa (8/8/2017).

Titiek yang saat ini menjabat Wakil Ketua Komisi IV DPR terkejut mendengar cerita Yasir. Politisi Golkar ini tidak menyangka pabrik ini pernah menjadi tempat ayahnya saat berjuang melawan Belanda kala itu.

"Saya baru tahu tadi, ini jadi napak tilas perjalanan hidup bapak yang pernah hidup disini saat perjuangan dulu," kata Titiek.

Ferry melanjutkan, kedatangan Titiek ke pabrik mi lethek yang berdiri sejak tahun 1940 an ini sangat tepat. Selain napak tilas perjuangan ayahnya, juga melihat geliat ekonomi pabrik mi lethek yang hanya jumlahnya ada dua di Bantul ini.

'Pabrik mi lethek ini juga bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kakek saya orang Yaman, jadi saat Pak Harto bersembunyi di sini tidak dicurigai oleh Belanda," jelas Ferry.

Titiek Soeharto juga sempat berkeling pabrik mi lethek ini. Dia justru terinspirasi pabrik mi lethek ini dijadikan tempat tujuan wisata minat khusus. Karena selain ada sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan bisa juga menjadi wisata edukasi.

"Kita kan banyak UMKM, banyak SMK dan Perguruan Tinggi tentunya ini menarik untuk dijadikan obyek wisata minat khusus dan sarana belajar," terangnya.

Titiek mengaku saat kunjungan ke luar negeri banyak tempat produksi sebuah produk juga dijadikan obyek wisata dan ramai dikunjungi setiap hari oleh wisatawan.

"Wisatawan dapat belajar membuat mi lethek namun juga bisa membeli oleh-oleh mi lethek yang berimbas pada peningkatan penjualan mi lethek," ucapnya.

Namun untuk menjadi tujuan wisata minat khusus pemilik pabril mi lethek juga harus berbenah, terutama dalam hal kebersihan tempat produksi, sehingga produk yang dihasilkan higienis untuk di konsumsi.

"Ini lantainya mbok ya dikeramik biar tampak bersih. Pegawainya juga diberi sepatu sandal agar tidak kotor dan mi letheknya juga bersih. Itu kotoran yang ada di dinding juga dibersihkan," katanya memberi masukan.

Tak hanya itu, dia juga meminta Bupati Bantul, Suharsono untuk membantu pabrik mi lethek ini jadi destinasi wisata khusus. Saat kunjungan, orang nomor satu di Bantul ini juga menemani Titiek Soeharto.

"Monggo Pak Bupati dibantu agar jadi destinasi wisata di Bantul," ucapnya.

Mendengar permintaan Titiek Soeharto, Suharsono mengaku siap memfasilitasi. Apalagi, keberadaan pabrik ini juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. "Ya nanti saya yang akan mendampinginya," kata Suharsono.

Beberapa waktu lalu, Presiden Amerika Serikat ke 44 Barrack Obama juga santap siang dengan mie lethek yang merupakan produk asli pabrik ini. Pembuatan mi tidak menggunakan bahan pengawet sedikitpun.

Permintaan mi merk Mie Bendo Asli Cap Garuda ini semakin diburu konsumen. Bahkan dalam satu hari, produksi yang mencapai satu ton ini tak mampu untuk memenuhi permintaan konsumen.

"Ya kalau dituruti permintaan dalam satu hari bisa mencapai dua ton mi lethek kering yang sudah dalam kemasan lima kiloan," kata Yasir menceritakan.

Dalam satu hari, pihaknya hanya mampu memproduksi 1,2 ton bahan baku tepung tapioka yang dicampur dengan tepung gaplek dan menghasilkan sekitar satu ton mi lethek kering.

"Jadi kalau cuaca hujan yang jelas produksi turun drastis, karena butuh matahari untuk menjemur mi lethek sebelum di kemas. Karyawan yang biasanya 35 orang ketika hujan yang masuk juga berkurang karena tidak bisa produksi," ucapnya.

Untuk memproduksi satu ton mi lethek kering, dibutuhkan dana sekitar Rp 12 juta dan jika dijual perkilonya Rp 65 ribu, maka pendapatan mencapai Rp 65 juta.

Jumlah itu belum dikurangi biaya lain-lain, mulai dari bahan baku, bayar pegawai, bayar transportasi pengiriman barang serta biaya untuk pakan dan minum tiga ekor sapi yang digunakan untuk mengaduk bahan baku dengan silinder.

"Kalau sudah dikurangi lain-lainnya, keuntungan membuat mi ini tidak banyak," ungkapnya. (dab/gun)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners