Rekomendasi

Perang Batin, Seniman Ini Kembali Geluti Seni Rupa Grafis Tingkat Tinggi

Jumat, 11 Agustus 2017 : 18.10
YOGYAKARTA - Bonaventura Gunawan bakal mengelar pameran tunggal seni grafis (printmaking) selama sepekan, 13-20 Agustus 2017 nanti di Bentara Budaya Yogyakarta. Puluhan karya seni grafis ini disatukan dalam tajik 'Re-Public: Reminding of Existence'.

Pameran tunggal itu dilakukannya setelah beristirahat cukup lama dari dunia seni. Seniman lulusan Program Studi Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta sudah berkiprah sebagai disainer grafis di berbagai tempat di Ibu Kota Jakarta.

Rekan seangkatannya (masuk ISI Yogyakarta 1986) senimam Yuswantoro Adi, Bambang Herras, dan lainnya telah sekian lama memendam hasratnya untuk berkiprah di dunia seni karena ingin mencari bekal pengalaman batin di jalur lain.

Selepas dari Jakarta, Gunawan terjun pada dunia bisnis sejak tahun 2007 hingga saat inu memiliki usaha persewaa scaffolding dalam skala besar.

"Perhelatan pameran tunggal ini kiranya dapat dibaca sebagai upaya ulak-alik seniman terhadap persoalan personak dan psikologis dalam diri sendiri, sekaligus sebuah iktiar besar Gunawan sebagai 'si anak yang hilang' untuk kembali masuk pusaran penting dunia seni rupa di Yogyakarta, bahkan Indonesia," katanya, belum lama ini.

Dalam sejarah peta seni rupa, kata dia, ada banyak prasarat mendasar yang mampu menempatkan seseorang untuk menjadi seniman yang terpampang dalam peta atau man on the map. Prasarat itu mulai dari intensitas untuk terus menerus berkarya secara konsisten.

Kemudian, kemampuan untuk menggali dan melahirkan temuan karya unik, spesifik dan di luar arus besar (mainstream). Selanjutnya, kemampuan seniman untuk mempresentasikan karya dengan menembus ruang dan kelas perhelatan tertentu.

"Tentu masih banyak hal dan strategi yang bisa dilakukan seniman untuk bisa on the map, namun beberapa hal itu bisa jadi akan memberi sokongan besar," katanya.

Karya yang ditampilkan Gunawan ini dalam posisi sebagai saksi, dokumentator, dan penebat opini, pada akhirnya memiliki salah satu titik temu penting, yakni 're-public', mengembalikan realitas sosial politik kemasyarakatan kepada publik, masyarakat, bahwa selalu ada sesuatu yang harus dibenahi.

Karya seni, dalam kontek ini, berlaku sebagai peringatan dini atas segala sesuatu yang tak beres dalam masyarakat. Menurutnya, karya yang ditampilkan ini bukan hal yang berlebihan, tapi realitas itu memang faktual ada di masyarakat.

"Salah satu fungsi karya seni rupa adalah mampu membebaskan cara pandang mainstream yang masif menjadi kritis," jelasnya.

Karya seni grafis bukan karya yang sederhana dalam proses pengerjaannya. Ada tahap-tahan dalam pengerjaannya, dan itu menjadi tantangan yang tengah digelutinya.

"Pilihan untuk berkarya dengan teknis grafis cetak tinggi, adalah bagian dari minat, kemampuan dan kecintan pada teknik yang sederhana, klasik, serta selaras dengan dunia ekspresi. Saya kembali ke kawah condrodimuko seni rupa Yogyakarta, semoga publik merespon dengan baik, termasuk tetap dengan kritisismenya," pungkasnya. (dab/rahayu)

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners