Rekomendasi

Sekar Djagat Gelar Pertunjukan Legenda Jongrang dan Ramayana di Balai Desa Madurejo

Minggu, 01 Oktober 2017 : 21.31
YOGYAKARTA - Cinta tulus suci Bandung Bondowoso kandas diantara bebatuan yang abadi. Roro Jonggrang adalah putri Prabu Boko yang berkuasa di tlatah Prambanan. Putri yang molek dan anggun tatkala siapapun pria yang melihatnya akan jatuh hati.

Kisah yang hingga sampai saat ini melegenda itu mampu menghipnotis masyarakat luas. Perseteruan antara Kerajaan Pengging yang dipimpin Prabu Damarmoyo dan Kraton Boko.

Dalam ceritanya, Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur dalam perluasan kekuasaanya hingga menyerang kerajaan Kraton Boko. Sang Prabu Boko pun tidak tinggal diam turun di medan laga hingga bertemu dengan Bandung Bondowoso, Senopati Pengging.

Ditengah pertempuran yang sengit Bandung yang sakti mampu mengalahkan Prabu Boko. Tumbangnya Prabu Boko membuat Roro Jonggrang sebagai putrinya sangat terpukul dan sedih.

Bandung yang melihat bahwa di balik tewasnya Prabu Boko ada permata cantik (Roro Jonggrang) tersembunyi di dalam istana. Bandung pun tidak bisa bisa berbohong dan jatuh cinta walaupun dia pembunuh ayah Roro Jonggrang.

Jonggrang pun bingung dan kecewa namun demikian Bandung tetap mengungkapkan isi hati untuk mempersuntingnya. Roro Jonggrang menolaknya dengan cara halus dan bersyarat.

Kata Jonggrang 'aku mau kamu persunting dan dijadikan istrimu Bandung, tapi ada syaratnya, penuhi permintaanku'. Permintaan Jonggrang diperkirakan tidak mungkin terjadi, yaitu membuat candi yang berjumlah 1.000 dalam satu malam sebelum ayam jantan berkokok.

Bandung pun setuju dan dilaksanakan atas permintaan Jonggrang. Dengan bantuan para bala jin kesaktian, Bandung pun bekerja keras bangun 1000 candi dalam waktu semalam. Roro Jonggrang sangat panik bila persyaratan yang mustahil itu sungguh terjadi didepan matanya.

Maka, Roro Jonggrang menggunakan tipu muslihatnya untuk menggagalkan kerja Bandung dengan membangunkan para perempuan untuk menutu padi sebelum fajar dan akhirnya ayam pun bangun untuk berkokok sebelum waktunya.

Batal sudah jumlah candi yg di minta rorojonggrang dan hanya kurang satu. Akhirnya, cinta Bandung bertepuk sebelah tangan. Bandung sangat marah pada Roro Jonggrang yang berbuat licik.

Mengetahui tipu muslihat Jonggrang, akhirnya Bandung mengutuk Roro Jonggrang sebagai gantinya kurang satu candi menjadi arca batu sehingga genap berjumlah 1000 candi.

Cerita itu akan tersaji apik dalam pertunjukan seni tari yang digelar Kamis, 28 September malam di Balai Desa Madurejo, Prambanan, Sleman. Lebih dari 40 penari profesional yang biasa pentas di Ballet Sendra Tari Ramayana terlibat dalam pertunjukan ini

"Pertunjukan dikemas dalam sendra tari 'Sengguh Ora Mingkuh', diambil dari legenda Roro Jonggrang," kata Ketua Padepokan Sekar Djagat, Hajar Wisnu Satoto yang akrab disapa Totok, Minggu (1/10/2017).

Totok yang merupakan generasi ketiga pemeran Rama di Ballet Ramayana Candi Prambanan ini menyampaikan tidak saja cerita Roro Jonggrang yang melegenda, tapi dalam pertunjukan itu juga disajikan cerita lain, yakni Sang Maha Wira Hanoman yang diambil dari cerita Ramayana.

Kemudian, pertunjukan ketiga cerita perjalanannya Prabu Sewandon dalam jatuh cintanya pada putri cantik Sekartaji.

Ada tiga cerita dalam pertujukan malam itu yang dihadiri dari Dinas Kebudayaan Sleman, Anggota DPRD Sleman, Kecamatan Prambanan, hingga tokoh dan masyarakat sekitar Madurejo. Ada juga wisatawan asing yang turut menyaksikan pertunjukan secara gratis ini.

Dalam cerita Ramayana, kegigihan Hanoman adalah duta Ayodya yang di percaya untuk mencari Dewi Shinta, istri sang Prabu Rama Wijaya yang di culik Raja Alengka. Kesaktian kera putih Hanoman yang disebut 'Bayu Bajra' akhirnya mampu menaklukan samodera dan penghalangya menuju alengkadiraja.

Berkat tulus hatinya mengabdi pada sang Prabu Ramawijaya, akhirnya sang hanoman mampu mengalahkan bala tentara alengka dengan membakar istana. Akhir cerita, Hanoman dapat membawa kembali Dewi Shinta dalam pelukan Rama Wijaya.

Pertunjukan ketiga cerita Klono Sewandono, sebuah perjalanannya Prabu Sewandon dalam jatuhcintanya pads putri cantik Sekartaji. Angan-angan yang begitu besarnya ingin meminang Sekartaji hingga terbawa dalam perlakuan di setip saat.

Sebagai pengggambarannya kobar api yang membara dalam hati Sewandono untuk mencintainya.

Totok yang merupakan alumnus ISI Yogyakarta ini menyampaikan tujuan pagelaran ini untuk mempertahankan dan melestarikan seni budaya. Selain itu juga sebagai penyemangat dan juga bisa sebagai pintu pembuka untuk menggalakkan dunia pariwisata desa dalam bentuk pertunjukan tari. (dab/rahayu)

Video Viral

Keseruan Saat AHY Putra SBY Disuguhi Martabak Oleh Gibran

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners