Rekomendasi

Jaga Kerukunan, Warga Yogya Diminta Sambut Wisatawan dengan Ramah

Kamis, 28 Desember 2017 : 17.34
YOGYAKARTA - Warga Yogyakarta selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung dan berwisata serta belajar di kota budaya ini. Meski berbeda asal daerah dan beragam kebudayaan, interaksi antar budaya di nusantara bisa berkembang baik karena adanya semangat toleran yang menjadi ciri Yogyakarta yang istimewa.

"Mari bersama jaga kebhinekaan yang ada, mari melayani dengan baik semua tamu yang datang untuk berwisata maupun yang belajar ke Yogyakarta," kata Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Kamis, (28/12/2017).

Ajakan untuk jaga toleransi dan kebersamaan ini disampaikan saat gelaran wayang kulit semalam suntuk di halaman DPRD DIY. Kegiatan wayangan akhir tahun diselenggarakan dengan lakon "Banjaran Bima" bersama Ki Seno Nugroho.

Melalui lakon yang berkisah tentang perjalanan Bima yang dikenal dengan gaya bicara lugas, ada pesan bagaimana bersikap jujur, bekerja penuh semangat dalam segala hal.

Eko saat didaulat naik panggung menyatakan Yogyakarta memiliki beragam perbedaan baik soal asal daerah maupun keyakinan, namun bisa hidup dan bekerja bersama.

Saat "goro goro", dia mempersembahkan tembang Nyidham Sari. "Tembang ini bentuk tanda cinta kita, DPRD kepada masyarakat DIY maupun wisatawan di Malioboro yang sempat mampir, nonton wayang di DPRD DIY," ujarnya.

Tampil juga dipanggung anggota DPRD DIY Edy Susila dan Wahyu Budiantoro berdialog dengan dalang seputar aspirasi masyarakat.

Tampilnya tiga anggota dewan berbeda partai ini sekaligus memberikan contoh mengenai pentingnya menjaga kerukunan di antara semua elemen, meski berbeda pilihan politik, tetap memiliki tanggung jawab bersama dan memiliki rasa cinta kepada kesenian, seni tradisi wayang.

"Kita memberikan contoh kerukunan meski dari partai berbeda. Rukun nyengkuyung keistimewaan DIY dengan salah satu cirinya nguri-uri kebudayaan Jawa," katanya.

"Mari kita rawat dan jaga nilai-nilai keistimewaan yang ada. Tentu tidak hanya nguri uri tapi juga ngurip uripi dengan nanggap wayang atau kesenian lainnya," imbuhnya.

Ki Seno Nugroho, dalang yang banyak memiliki pengalaman pentas ke banyak negara menyatakan pilihan lakon Banjaran Bima cukup konstekstual dengan kondisi sosial politik masa kini.

"Banjaran Bima merangkum banyak pesan, kejujuran, keberanian dan sifat ksatria dan sikap lugasnya Bima atau Werkudara," kata Ki Seno Nugroho.

Dia juga menyisipkan pesan lewat hadirnya tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong dengan ajakan agar sebagai pejabat negara, di semua level agar tidak mudah tergiur dan tergoda korupsi.

Saatnya kini, bangsa Indonesia meninggalkan perilaku dan sifat buruk yang merugikan banyak pihak seperti menebarkan kedengkian, menghentikan kabar bohong (hoax) dan selalu menjaga toleransi dan kebhinnekaan yang ada.

Tembang "Gugur Gunung" karya Ki Narto Sabdo dan tembang penuh semangat berjudul "Bung Karno Putra Sang Fajar" juga dimainkan untuk mengingatkan semua warga negara atas nilai kejuangan Bung Karno dan Pancasila sebagai dasar negara.

"Gugur gunung itu bermakna gotong royong, mari holobis kuntul baris, bekerja untuk kemakmuran dan kejayaan Indonesia," kata Seno Nugroho. (dab/rahayu)

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners