Rekomendasi

Tahun Politik, Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2018 Kembali Tak Penuhi Target

Kamis, 21 Desember 2017 : 22.26
YOGYAKARTA - Pakar ekonom, Edy Suandi Hamid mengatakan laju pertumbuhan ekonomi 2017 hampir dapat dipastikan tidak memenuhi target yang ditetapkam dalam APBN, yakni hanya berkisar 5,1% dari target sebesar 5,2%.

Tidak memenuhi target ini mengulang fakta tahun-tahun sebelumnya dalam pemerintahan Jokowi-JK.

Sejak tahun 2015 laju pertumbuhan ekonomi selalu dibawah target, yakni hanya 4,88% dari target 5,2%. Itu merupakan pertumbuhan ekonomi terendah sejak tahun 2009. Begitu juga di tahun 2016 hanya tumbuh 5.02% dari target 5,3%.

"Hal yang sama bukan tidak mungkin lagi terjadi tahun 2018 nanti, yakni pertumbuhan ekonomi dibawah target, yang sebetulnya tidak terlalu tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi pada masa rezim-rezim sebelumnya diluar periode krisis," katanya dalam temu media dengan topik 'Prospek Ekonomi & Bisnis 2018 di Jogja City Mall, Yogyakarta, Kamis (21/12/2017).

Edy mengatakan realitas pertumbuhan ekonomi selama tiga tahun terakhir ini jauh dari janji-janji kampanye saat pencapresan yang menargetkan rata-rata pertumbuhan ekonomi tujuh persen pertahun.

Situasi perekonomian dunia yang tidak kondusif, yang cenderung melemah, utamanya yang banyak bermitra dengan Indonesia, yakni China serta Amerika Serikat, menjadi kambing hitam dari target-target yang tidak tercapai itu.

"Ini bisa jadi menunjukkan bahwa mesin birokrasi yang ada belum bergerak maksimal untuk melaksanakan berbagai kebijakan pemerintah yang sebetulnya diatas kertas sudah cukup baik," kata Edy yang kini menjabat sebagai Rektor Widya Mataram Yogyakarta ini.

Edy menyampaikan paket-paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan mencapai 16 jilid, pembangunan infrastruktur yang besar-besaran, pengucuran dana desa yang terus meningkat, belum maksimal menggerakkan perekonomian lebih cepat.

Disamping program tidak sepenuhnya efektif, juga sebagai dampaknya memang baru bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Pembangunan infrastruktur misalnya, butuh biaya besar tapi dampak positif akan dirasakan jangka panjang. Dan ini, lepas dari beban anggaran berat untuk melaksanakannya dan membebani banyaj BUMN untuk merealisasikannya.

"Itu program pemerintahan Jokowi-JK yang sangat visioner," jelas mantan Rektor UII Yogyakarta ini. Sebetulnya, laju pertumbuhan ekonomi rendah tidak selalu buruk, sepanjang laju pertumbuhan itu berkualitas.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menurutnya butuh dukungab fiskal yang ekspansif. Masalahnya, APBN 2018 juga cukup berat dengan belanja negara Rp 2.220 triliun dan mendapatan negara sebesar Rp 1.894,7 triliun.

"Kita tidak bisa menatap tahun 2018 dengan optimistik. Lebih dari itu, tahun 2018 suhu politik akan memanas yang bisa menimbulkan ketidakpastian dalam perekonomian nasional," katanya. (dab/dwi indah)
Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners