Rekomendasi

Ustadz Bachtiar Nasir Sanjung Toleransi Umat di Kotagede

Sabtu, 23 Desember 2017 : 11.33
YOGYAKARTA - Gerakan Islam di Jawa tidak bisa dipisahkan dengan unsur budaya, khususnya di Kotagede, Yogyakarta. Begitu juga pengaruh-pengaruh politik di kawasan itu tidak bisa dilepas begitu saja tanpa menengok sejarah perjalanan gerakan Islam nusantara.

"Pengaruh-pengaruh politik tidak bisa dipisahkan. Bahkan, pengaruh-penganut feodal pun sempat berpengaruh di beberapa tempat di Indonesia," kata Ustad Bachtiar Nasir, tokoh nasional pembela muslim Palestina dalam berbagai kesempatan.

Hal itu disampaikam usai tablig akbar di halaman teras Masjid Agung Kotagede Yogyakarta pada, Jum'at, (22/12/2017) kemarin. Ratusan orang dari akademisi, tokoh masyarakat, hingga masyarakat umum dari berbagai lapisan berbaur mendengar dakwah yang disampaikan.

"Walaupun feodal tidak mesti negatif, karena masyarakat tertentu, pendekatan feodalisme, selama pemimpinnya itu lurus, itu lebih efektif. Ini saya sebut dengan pengaruh islam dan feodalismenya Yogya hingga ke berbagai daerah di Indonesia," tambahnya.

Ustad menyanjung masyarakat muslim Kota Pendidikan Yogyakarta ini, khususnya di wilayah mataram Kotagede. Meski negeri ini menganut azas demokrasi, namun feodalisme tetap ada dan terjaga ditengah arus moderenisasi saat ini.

"Bagaimanapun juga, muslim di Yogya ini cerdas dan dewasa, itu kesan saya. Walaupun bentuk feodal itu masih berjalan, namun tetap bisa beriringan dengan demokrasi hingga saat ini," katanya.

Dia melihat banyak kelebihan Muslim di Yogyakarta. Umat muslim di yogyakarta yang besar dilingkungan Kerajaan dan terkesan feodal, tapi mampu berinteraksi positif di alam demokrasi saat ini.

Dia memberi contoh saat terjadi kerusuhan Bulan Mei 1998 silam ketika rezim orde baru tumbang digantikan orde reformasi hingga saat ini.

"Ketika sebagian besar kota lain porak poranda, kedewaan masyarakat Yogya dalam melihat peristiwa itu luar biasa. Begitu juga toleransi yang ada di dalamanya patut untuk dijadikan teladan daerah lain," katanya.

Yogyakarta ini dihuni berbagai ragam masyarakat dari berbagai latar belakang dan budaya yang beragam. Namun, masyarakat bisa mengisi harmoni kebersamaan meski perbedaan itu ada. Tak bisa dipungkiri, kota ini memiliki historis yang panjang dalam berbagai masa. (dab/gun)‎

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya