Rekomendasi

Awas! Setelah Wabah Difteri dan Campak, Muncul Penyakit Demam Keong

Jumat, 19 Januari 2018 : 20.09
JAKARTA - Setelah merebak wabah Difteri dan Campak, Indonesia kembali dihebohkan dengan munculnya penyakit Schistosomiasis (demam keong).

Penyakit itu pertama kali ditemukan di dataran tinggi Lindu, Napu, dan Bada, Provinsi Sulawesi Tengah. Penyakit tersebut disebabkan oleh cacing atau larva schistosoma japonicum (serkaria) yang penyebarannya melalui perantara keong.

Pemerintah Melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menginstruksikan agar penyakit demam keong ditangani secara serius karena bisa memberikan dampak yang buruk.

"Ini adalah larva yang penyebarannya tidak hanya pada manusia tetapi pada hewan. Bahayanya larva serkaria dapat menembus kulit manusia dan tumbuh dewasa di dalam tubuh manusia," ucap Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, dr. Sigit Priohutomo di kantornya, Kamis (18/1/2018).

Sigit mengatakan, penyakit tersebut hanya ditemukan di 28 desa di Kabupaten Poso dan Sigi, Sulawesi Tengah. Keong tersebut memiliki ukuran yang sangat kecil sekitar empat milimeter dan dia hidup di bekas sawah-sawah yang tidak dipakai, di tanah yang lembab, disemak-semak, atau di bawah humus-humus.

"Bentuknya kecil sekali, kalau keong itu diinjak dengan kaki telanjang akan pecah dan larvanya itu masuk ke kulit, kemudian dia berkembang menjadi cacing di usus," kata Sigit.

Lebih jauh, cacing yang sudah masuk ke dalam perut akan makan darah dalam tubuh dan BAB ke dalam usus. Permasalahannya adalah jika orang yang terkena penyakit tersebut ternyata BAB sembarangan maka siklus penyakit ini tidak akan hilang.

"Telur-telur dari larva itu dibuang melalui kotoran manusia atau hewan kemudian dia berkembang menjadi ovum, sama jadi mikrolarva," ucap Sigit.

Namun, Sigit menambahkan, seandainya manusia tidak buang air besar sembarangan tetapi untuk hewan tentu tidak mungkin. Karena itu, perlu disediakan tempat khusus bagi hewan ternak agar bisa diisolasi dan demam keong tidak menyebar kemana-mana.

"Harusnya pemeliharaan hewan itu dikandangkan," terang Sigit. "Penyebaran penyakit ini melalui aktivitas mencuci, mandi, atau melewati air yang mengandung larva serkaria," tambahnya.

Sebagai pengawal kesehatan di Kemenko PMK, Sigit menjelaskan, Kemenko PMK dengan K/L terkait sudah menangani penyakit tersebut baik di manusia atau di hewannya. Terbukti dengan prevalensi penyakit tersebut kecil sekali sekitar 0,65 sampai 0,97 persen.

Sementara, angka infeksi pada keong perantara dan hewan ternak, jauh lebih tinggi, yakni masing-masing 1,2-10,5 persen dan 5,5-40 persen. "Strategi pemerintah adalah melakukan eradikasi dari demam keong. Kita akan fokus untuk memutuskan siklus penularan penyakit demam keong 2018-2025," jelas Sigit.

Lebih lanjut, Sigit menyampaikan bahwa penanggulangan penyakit ini bukan hanya sebagai tanggung jawab Kementerian Kesehatan tetapi Kementerian Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, serta penyediaan sarana air bersih dan sanitasi yang memadai dan mudah dijangkau masyarakat.

"Jadi harapannya semua pihak terlibat untuk penanganan penyakit tersebut," ujarnya lagi.

Sigit mengharapkan dalam kegiatan sehari-hari, masyarakat menggunakan alas kaki, terlebih ketika di sawah, kebun dan tempat-tempat lembab lainnya. Kemudian, kata Sigit, tempat-tempat yang basah juga perlu diperhatikan karena disanalah keong berkembang biak.

"Saya harap upaya pemusnahan penyakit ini juga didukung dengan prilaku masyarakat agar tidak membuang air besar disembarang tempat," harap Sigit. (Gunadi)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya