Rekomendasi

Pasca Putusan MK, Penghayat Kepercayaan Berharap Kolom KTP Segera Ada Perubahan

Selasa, 16 Januari 2018 : 16.14
Ketua Umum Penghayat Kepercayaan Indonesia, Eko Sriyanto Galgendu, rohaniawan Budha, Bhikku Dhammasubho Mahathera dalam gelar pertemuan "Nyawiji Adem Tentrem" (Bersatu Sejuk dan Tenteram) lintas agama. (foto. Sapto Nugroho)
SOLO - Hingga kini, pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang keharusan negara menjamin setiap penghayat kepercayaan dapat mengisi kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga, (KK) masih berkutat pada birokrasi dan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat

Dalam gelar pertemuan bersama tokoh, budaywan dan pimpinan lintas agama di Kota Solo, Senin (16/1/2018), Ketua Umum Lembaga Penghayat Kepercayaan Indonesia (LPKI), Eko Sriyanto Galgendu mengungkapkan, secara konkrit belum ada aturan resmi untuk dijadikan pedoman teknis dari pemerintah.

Koordinasi dengan beberapa lembaga negara dan kementrian terkait tentang pencantuman kepercayaan itu seperti apa, masih terus dilakukan

Meski begitu, sebelum petunjuk teknis itu keluar, LPKI hingga kini terus menyelaraskan, bersinergi dengan tokoh, budayawan serta pimpinan lintas agama tentang bagaimana membangun bangsa dalam bingkai keberagaman perbedaan keyakinan dengan damai

"Informasi yang kami dapat, dari Kemendagri telah sepakat menindaklanjuti putusan MK. Hanya substansi pencantuman kolom kepercayaan itu pada format seperti apa, itu yang masih perlu dibicarakan. Kepada Kemenpolkam telah diusulkan agar dibuatkan blanko khusus. Dimana nanti kolom agama di ganti kolom kepercayaan," kata Eko

Sementara rohaniawan Budha, Bhikku Dhammasubho Mahathera yang hadir di acara tersebut menyambut baik atas putusan MK tentang keharusan negara memberi tempat dalam kolom administrasi kependudukan kepada Penghayat Kepercayaan, sama seperti enam agama lainnya di Indonesia.

"Jadi kalau sekarang ini ada keputusan boleh mencantumkan, sebetulnya kan belum lama. Ini (penghayat kepercayaan) sama dengan yang ketlisut (hilang) itu ketemu, yang pergi itu pulang, yang tidur itu nglilir (terbangun), yang lupa jadi ingat sedang yang sakit mudah-mudahan menjadi sembuh dan sehat," tuturnya

Menurut mantan Ketua Sangha Theravada Indonesia dua periode ini, penghayat kepercayaan di Indonesia dahulu merupakan ajaran kebatinan budaya warisan leluhur yang telah ada sejak berabad-abad silam.

Sebelum masuknya agama resmi yang diakui pemerintah saat ini, mereka telah eksis di pelosok-pelosok pedalaman tanah air. "Bagi kami tidak ada yang perlu ditanggapi. Dari sudut agama Budha hal itu tidak ada masalah," pungkasnya. (Sapto Nugroho/Gun)

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya