Rekomendasi

Banyak LAZ Tak Terdaftar di Baznas Kemenag DIY

Jumat, 09 Februari 2018 : 21.54
Loading...
YOGYAKARTA - Banyak lembaga amil zakat yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, dari sekira 38 LAZ yang tercatat, tak sedikit yang belum mengantongi surat keterangan.

Surat keterangan itu dari Kementerian Agama dan verifikasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) DIY. Hal itu sesuai dalam UU nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam aturab itu disebutkan LAZ harus mengantongi izin dari Kemenag.

"Baru ada sekitar 10 yang sudah ijin resmi. Kalau lembaga amil zakat di DIY ini ada sekitar 38 lembaga," kata Ketua Baznas DIY Bambang Sutiyoso disela pemberian bantuan beasiswa bagi 160 siswa kurang mampu untuk tingkat SD-SMA di Kantor Kanwil Kemenag DIY, Jum'at (9/2/2018).

Beasiswa Baznas DIY memberikan tunjangan dana setiap bulan pada masing-masing siswa kurang mampu yang tercatat. Untuk siswa SD sederat senilai Rp 200 ribu, SMP sederajat Rp 250 ribu, dan SMA sederajat Rp 300 ribu. Penerima beasiswa juga diberi pembinaan dan evaluasi setiap tiga bulan sekali.

Bambang mengaku cukup kesulitan dalam menghitung jumlah pasti hasil pengumpulan infak, zakat dan shadakah. Sebab, masih minimnya jumlah LAZ yang memiliki ijin resmi. Sementara yang tidak memiliki ijin, pihaknya tidak bisa mengetahui dengan detail.

"Ada kemungkinan dalam aturan pemerintah besok LAZ itu diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan), karena melakukan penghimpunan dana dari masyarakat," katanya.

Selama 2017 lalu, Baznas DIY berhasil menghimpun zakat dari masyarakat sebesar Rp2,8 miliar. Sebagian besar tetap masih berasal dari zakat pegawai. Beberapa lembaga pemerintahan di DIY, disebutnya sudah menjadi unit pengumpul zakat, seperti di UGM.

Terkait dengan Peraturan Presiden (Pepres) yang sedang disiapkan Kemenag, Bambang menyambut baik ide yang juga diinisiasi Baznas tersebut. Meski selama ini menjadi penyumbang terbesar, potensi zakat dari ASN dinilainya lebih besar.

Bahkan, lanjut dia, di beberapa daerah sudah dikeluarkan Peraturan Gubernur bahkan Peraturan Daerah terkait zakat. Bagi ASN, juga memudahkan, karena gaji yang dibawa sudah bersih dan terpotong untuk ZIS.

Untuk potensi zakat, infak dan shodaqoh di DIY nilainya bisa mencapai triliuan rupiah. Salah satunya dengan jumlah masjid di DIY yang mencapai lebih dari 5.600.

"Jika satu masjid saja bisa mengumpulkan infak sebulan Rp200 ribu, nilainya sudah lebih dari Rp1 triliun. Mayoritas melalui Baznas kabupaten dan kota, yang melalui Baznas DIY hanya Masjid Gede Kauman, masjid DPRD DIY dan masjid Sulthoni Kepatihan," ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIY Prof Muhammad mengatakan infak yang bisa dikumpulkan masjid di DIY setahunnya bisa mencapai Rp269 miliar. Jumlah yang cukup sebesar itu sebagian besar hanya ngendon di rekening masjid yang dikelola takmir.

"Orang Indonesia itu mudah memberi tapi sulit mengeluarkan. Uang yang terkumpul harus dikelola dengan baik," katanya. (dab/rahayu)

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners