Rekomendasi

Hujan Iringi Umat Hindu Meraih Kesucian Diri Lewat Upacara Melasti Menjelang Nyepi

Minggu, 11 Maret 2018 : 15.06
Hujan Iringi Umat Hindu Meraih Kesucian Diri Lewat Upacara Melasti Menjelang Nyepi (Foto:Iwan Iswanda/hariankota)
KARANGANYAR - Hujan gerimis mengiringi upacara Melasti Tahun baru Saka 1940 yang digelar ummat Hindu Karanganyar yang berlangsung di Telaga Madirda, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Minggu (11/3/2018).

Meski diiringi dengan hujan gerimsi, sebanyak 450 Ummat Hindu se Karanganyar, tetap khusuk melaksanakan upacara menjelang hari raya Nyepi tersebut. Dalam upacara tersebut, juga dihadiri Camat Ngargoyoso, serta Kepala Kementerian Agama, Mustain Ahmad.

Pantauan hariankota.com, sejak pukul 08.30 WIB, ratusan umat Hindu dari berbagai wilayah di Karanganyar tersebut, mulai berdatangan ke telaga Madirda dengan membawa beragam sesaji hasil bumi seperti beras, buah-buahan.

Aneka sesaji itu sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi berkah hasil bumi mereka. Dengan berpakaian serba putih, dengan hidmat, warga hindu ini mengikuti prosesi upacara Melasti. Pada saat upacara dimulai, semua ummat menghadap ke arah telaga dengan duduk bersila.

Sementara sesaji diletakkan di depan untuk didoakan. Upacara ini merupakan simbol pembersihan dosa bagi ummat Hindu sebelum memasuki hari raya Nyepi. Upacara ini diawali dengan dibunyikannya lonceng oleh pendeta Hindu, Jero Mangku Pasek.

Doa-doapun langsung dibacakan. Usai pembacaan doa, setiap kepala jemaah diciprati air oleh sang pendeta. Para pemeluk Hindu meyakini, bahwa air yang telah didoakan oleh pendeta tersebut dapat membersihkan dosa-dosa yang dilakukan semasa hidup.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Karanganyar, Widadi Nur Widioko, mengatakan upacara Melasti digelar sesuai dengan ungkapan Agama Hindu untuk upacara ini, yakni desa, kala, dan patrayang artinya tempat, waktu,dan keadaan. Oleh karena itu, upacara adat ini digelar dengan menyesuaikan tiga hal tersebut.

Dijelaskannya, Melasti berasal dari kata Male dan Letah. Dalam Agama Hindu, Male mengandung arti kekotoran, sementara letah artinya manusia. Maka, upacara Melasti ini bertujuan untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk manusia.

“Seperti tamak dan sombong yang merugikan diri sendiri dan orang lain itu dibersihkan. Agar saat perayaan Nyepi nanti bisa sukses,” kata Widadi usai upacara. Usai pembacaan doa, sesaji yang telah disiapkan kemudian dilarung ke Telaga Madirda yang merupakan salah satu objek wisata di Kecamatan Ngargoyoso.

Menurut Widadi, makna dari larung sesaji ini adalah segala sesuatu yang telah diambil manusia dari alam harus dikembalikan lagi ke tempat semula, yakni alam agar dapat tercipta keseimbangan kehidupan.

Widadi menjelaskan, ada tiga unsur penting yang telah diambil manusia dari alam, yakni air, tanah, dan sinar surya. Ketiga unsur tersebut merupakan unsur yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia. 

Artikel ini juga bisa dibaca di majalah Swahindu terbit 14 Maret 2018, dengan judul "Kidung Suci Melasti Dari Tanah Jawa"

(Iwan Iswanda/Akbar Nugraha)
Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners