Rekomendasi

Pakar Ekonomi: Berpikir Keuntungan Hakekat Koperasi Menyimpang

Selasa, 27 Maret 2018 : 21.07
ilustrasi
YOGYAKARTA - Pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta,Revridsond Baswir, berpendapat bahwa anggota koperasi sudah salah kaprah karena yang dipikirkan hanya keuntungan saja, menerima sisa hasil usaha (SHU). Kalau ini yang terjadi, sudah menyimpang dari hakekat koperasi.

Sebab koperasi didirikan semata-mata bukan untuk mencari keuntungan, tapi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Oleh karena itu, harus diluruskan apalagi mencari keuntungan dengan jumlah yang cukup besar. Sekali dikatakan, bahwa koperasi didirikan bukan untuk mencari keuntungan.

Revridsond mengatakan itu dihadapan peserta dalam diskusi kebangsaan di Kampung Mataraman, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, kemarin. Acara mengusung tema 'Pengamalan Pancasila dalam Menyejahterakan Desa' ini diselenggarakan  Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY).

Diskusi menghadirkan pula anggota DPR/MPR RI, Drs H Idham Samawi dan Direktur BUMDes Panggung Lestari Desa Panggungharjo, Eko Pambudi, berlangsung meriah namun khidmad dengan dihadiri mahasiswa dan kalangan akademisi.

Lebih lanjut Sony, sapaan Revridsond, motif anggota koperasi yang mengejar SHU itu akibatnya kalau mendirikan koperasi simpan pinjam, hanya akan sebagai kedok rentenir saja. Akhirnya, yang terjadi justru merusak citra koperasi. ''Inilah yang patut kita sayangkan,'' katanya.

Disebutkan, selama ini persepsi masyarakat mengenai koperasi sudah telanjur negatif. Imejnya, lanjut dia, sudah negatif karena sudah lama melupakan Pasal 33 UUD 1945. Ia menyampaikan, membuat koperasi yang benar adalah koperasi yang transparan dan berintegritas.

Mnurut dia, biasanya yang sering ngapusi itu ketuanya, tapi kalau anggotanya sudah pinter tidak bisa ketuanya itu akan membohongi anggotanya. Untuk itu, bila anggotanya pintar ketuanya tidak bisa ngapusi.

Sementara Direktur BUMDes Panggung Lestari Eko Pambudi menyampaikan, BUMDes Panggung Lestari berdiri sejak 2013. Dari mulai membentuk kelompok usaha pengelolaan sampah, limbah rumah tangga minyak goreng, agro pertanian, swalayan desa, dan pengelolaan Kampung Mataraman.

"Semula kita hanya dikasih modal Rp 37 juta, namun berkat kegigihan anggota maka aset kita sekarang sudah Rp 2,1 miliar,'' katanya.

"Kami optimis bahwa aset ini akan terus bertambah, karena kebetulan usaha yang kami lakukan cukup berkembang," katanya lagi.

Kampung Mataraman merupakan salah satu unit usaha milik desa setempat. "Kami ingin mengeksplor kehidupan kampung era abad 19, saat kejayaan Mataram Islam. Jadi, bukan kerajaannya, tapi kehidupan kampung yang agraris,"katanya. (dab/rahayu)



Bagikan :

Video: Detik-detik Ledakan di Parkir saat Debat Capres ke-2 Berlangsung

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Read More

Our Partners