Rekomendasi

Pengrajin Tenun Stagen Tradisional, Bertahan di Tengah Arus Teknologi Modern

Kamis, 08 Maret 2018 : 14.52
Ditengah himpitan teknologi modern, Dirjo Mulyono (60) setia menekuni usaha tenun stagen tradisional di Desa Ngluwang, Kecamatan Gatak, Sukoharjo (Foto. Sapto Nugroho)
SUKOHARJO - Ditengah kemajuan teknologi dan teknik diet untuk melangsingkan bentuk badan. Saat ini, rasanya sangat jarang menjumpai perempuan mengenakan kain stagen di perutnya.

Bisa jadi perempuan jaman now beranggapan kain stagen tradisional yang cara memakainya dililitkan melingkar diperut ini terasa aneh dan ribet. Bukankah teknik diet menggunakan alat-alat modern di tempat fitness atau menggunakan nutrisi lebih praktis dan banyak dijual bebas di pasaran.

Begitu kira-kira penilaiannya. Padahal teknik modern menguras kantong dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bandingkan dengan harga stagen, kain selendang hasil tenun tradisonal yang sudah jarang ditemui ini, harganya sangat ekonomis.

Bagi mereka yang tinggal di kota besar tak heran saat ini akan kesulitan mencari penjual stagen tradisional yang juga biasa di kenakan ibu-ibu jaman dulu setelah melahirkan.

Namun siapa sangka, di Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Dukuh Blimbing Desa Luwang, Kecamatan Gatak ternyata masih ada sejumlah warga yang setia melestarikan usaha tenun stagen tradisional ini dengan alat yang jauh dari sebutan modern.

Pantauan hariankota.com di lapangan, Kamis (8/3/2018) sedikitnya di desa ini masih ada sekira 15 pengrajin yang bertahan menekuni pembuatan tenun stagen tradisional meski gempuran produk hasil teknologi modern tak terbendung membanjiri toko dan pasar.

Salah satunya adalah, Dirjo Mulyono (60). Pria yang mengaku hanya mengenyam pendidikan setingkat taman kanak-kanak puluhan tahun silam ini, mengandalkan usahanya sebagai pengrajin tenun stagen tradisional untuk menghidupi keluarganya.

"Sekarang hasilnya tak lagi menjanjikan. Hanya bisa untuk bertahan hidup. Modalnya besar, keuntungannya sangat kecil. Habis untuk biaya operasional bayar tenaga dan benang bahan baku," tuturnya.

Kakek 4 cucu dari 3 anak ini menceritakan, keuntungan dari hasil usaha tenun stagennya tak sebagus dulu, mengingat keterbatasan tenaga dan kalah bersaing dengan produk modern. Hanya orang-orang tertentu saja yang masih menjadikan stagen sebagai kebutuhan dalam berbusana.

Misalnya untuk pelengkap busana tradisional jawa. Kondisi itu juga diperparah dengan minimnya generasi muda yang tertarik menekuni usaha tenun stagen tradisional. Saat ini karyawan Dirjo hanya sekira 6 orang saja. Itupun rata-rata umurnya sudah tua semua.

"Karena warga di sini terutama anak muda, sekarang lebih senang kerja di luar desa. Bahkan anak saya sendiri memilih kerja dipabrik. Alasannya kalau kerja seperti ini (jadi buruh tenun tradisional) upahnya kecil," ungkapnya.

Dengan jam kerja dari pukul 08.00 WIB -15.00 WIB. Setiap hari tempat usaha Dirjo bisa memproduksi 40 meter kain setagen. Setiap satu stagen membutuhkan empat meter kain maka rata-rata satu karyawan menghasilkan 10 stagen per harinya.

Perlu diketahui bahan baku untuk membuat stagen adalah benang putih yang kemudian di warna sesuai pesanan, mulai hijau, hitam atau merah. Adapun jenis benangnya ada dua yakni katun dan benang lawe ukuran 12.

Setelah diberi warna kemudian dijemur sampai kering dan dipintal dalam sebuah gulungan untuk selanjutnya ditenun.

Proses manual yang sedikit rumit ini membutuhkan waktu kurang-lebih satu jam untuk membuat benang siap ditenun. Nantinya, setelah jadi, stagen dikirim ke pengepul setiap satu minggu sekali. Adapun per kodinya dihargai Rp 200 ribu. (Sapto Nugroho/Rahayu)
Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners