Rekomendasi

Sejarah Ogoh-ogoh Saat Nyepi Serta Kisah Mistis di Baliknya

Selasa, 06 Maret 2018 : 23.43
Published by Hariankota
DENPASAR - Hari raya Nyepi sebentar lagi tiba. Seperti biasa, ogoh-ogoh atau patung raksasa bakal menghiasi setiap sudut pulau Bali. Tapi masih banyak yang belum tahu, kenapa ogoh-ogoh selalu ada setiap Nyepi.

Ogoh-ogoh merupakan salah satu tradisi Umat Hindu khususnya di Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tradisi mengarak ogoh-ogoh di Bali biasa disebut dengan “pengerupukan”. Pengerupukan biasanya dilakukan tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Sejarah asal muasal dari ogoh-ogoh khususnya di Bali ada beberapa versi yang berbeda. Ada yang mengatakan ogoh-ogoh dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara pitra yadnya.

Ada pula yang berpendapat bahwa ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Informasi lain menyebutkan bahwa ogoh-ogoh muncul sekitar tahun 70an.

Apapun pendapat tentang sejarah asal muasal ogoh-ogoh di Bali, dewasa ini meski Jaman semakin berkembang, teknologi semakin maju tapi ogoh-ogoh juga semakin dikenal bahkan menjadi salah satu tradisi yang ditunggu-tunggu oleh warga Bali bahkan wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Ogoh-ogoh adalah tradisi yang akan terus ada dari masa ke masa, karena merupakan sebuah seni dan kreatifitas tanpa batas oleh anak muda warga Bali.

Banjar Tenten atau desa Tenten mempunyai kreasi dan tradisi ogoh-ogoh unik. Namun, meski memiliki kreasi paling unik dalam membuat ogoh-ogoh dibandingkan daerah lainnya di pulau Bali, tapi di banjar atau desa ini, pantang membuat ogoh-ogoh menyerupai raksasa atau sejenisnya.

Mereka (warga banjar Tenten) yang terletak di Jalan Imam Bonjol ini, justru harus membuat ogoh-ogoh berbentuk celeng atau babi hutan. Tradisi membuat ogoh-ogoh celeng ini sudah berlangsung turun temurun dan dipercaya mempunyai kekuatan mistis.

"Dulu sempat muda-mudi disini buat ogoh-ogoh raksasa. Sampai akhirnya, seluruh pemuda yang mengangkat ogoh-ogoh itu kesurupan dan berkelahi sesama teman sendiri. Mereka saling pukul sampai kecapean tapi tidak satupun ada yang terlihat bekas luka.

Ternyata itu petaka bahwa membuat jenis ogoh-ogoh selain bentuk celeng," terang I Komang Sayang, Selasa (6/3/2018) di Denpasar.

Dari kejadian itulah, banjar Tenten dipastikan selalu membuat ogo-ogoh berbentuk celeng. Namun demikian tidak menutup kemungkinan membuat ogoh-ogoh bentuk lain, asal tetap mempertahankan keberadaan ogoh-ogoh celeng.

"Pernah juga kami tidak membuat ogoh-ogoh karena tidak ada dana. Dan itu tidak masalah. Karena titahnya, buat boleh asal ada bentuk celeng atau tidak sama sekali," lanjut Sanyang.

Sanyang mengatakan pertama kali ogoh-ogoh dibuat di banjar ini memang bentuknya babi atau celeng. Bukan karena pawisik (bisikan gaib lewat orang pintar), tetapi hanya itu yang bisa dibuat kala itu. Bahannya dari jerami dan anyaman bambu.

"Awal pertama kita buat ogoh-ogoh dengan jerami, ya memang bentuk babi. Karena cuma itu yang bisa dan gampang. Akhirnya jadi keterusan buat bentuk babi, kalau lain bentuk anak-anak takut tulah. Saya tidak tahu, kenapa jadi tulah," jelasnya.

Lain lagi di Banjar Peken, Denpasar, Bali. Sebulan menjelang hari raya Nyepi, teruna-teruni (pemuda dan pemudi) di Banjar Peken tidak terlihat sibuk mempersiapkan ogoh-ogoh untuk diarak sehari jelang Nyepi seperti banjar lainnya.

Banjar Peken adalah salah satu dari empat banjar di Desa Pakraman Renon yang tak membuat ogoh-ogoh. Sebab, tiap kali membuat ogoh-ogoh, boneka raksasa itu pasti hidup tiap hendak diarak keliling kota. Maka, sejak tahun 1995 warga di empat banjar ini tidak pernah membuatnya.

"Ogoh-ogoh itu sebetulnya kreativitas anak muda. Seninya itu ada kaitannya dengan agama Hindu," katanya saat ditemui di Renon.

Pada saat pelaksanaan ogoh-ogoh pertama kali pada 1986 itu, Desa Pakraman yang terdiri dari empat banjar juga membuat ogoh-ogoh. "Pada saat diupacarai (ogoh-ogoh sebelum diarak diupacarai dulu) pada saat itu ogoh-ogoh itu hidup," kata Sutama.

Pada saat diupacarai dan ogoh-ogoh siap diarak, boneka raksasa itu bergerak berjalan. Tak lama, di dua tempat berbeda ada kesurupan. Dari petunjuk kesurupan di dua tempat berbeda itu petunjuknya sama, yaitu tidak diizinkan untuk mengarak ogoh-ogoh.

"Ya, karena pada saat ogoh-ogoh diupacarai, ogoh-ogoh itu hidup. Sehingga yang mengarak itu tidak berani, akhirnya di-prelina atau dibakar kembali, tidak jadi diarak," tuturnya.

Karena penasaran, pada 1995 warga akhirnya memutuskan mencoba kembali membuat ogoh-ogoh. Sebelumnya warga bertanya-tanya kenapa kok tidak diizinkan membuat ogoh-ogoh. Warga membuat ogoh-ogoh, tapi hal yang sama terulang lagi.

"Begitu diupacarai ogoh-ogoh tersebut hidup. Sehingga akhirnya ogoh-ogoh kembali dibakar, tidak jadi diarak," ujar Sutama. Kelian (kepala) adat Banjar Peken, Nyoman Suala membenarkan peristiwa ogoh-ogoh hidup tersebut. Dia mengaku menyaksikannya saat masih muda.

"Ya, benar ogoh-ogoh di sini. Bukan cuma bergerak, tapi jalan ogoh-ogoh itu. Saat itu saya masih remaja yang akan mengangkat ogoh-ogoh itu untuk diarak," katanya. (Gunadi)
Share this Article :