Rekomendasi

Misteri Tersembunyi Megalitikum Batu Macan Abad XIV

Kamis, 10 Mei 2018 : 23.38
Published by Hariankota
Misteri Tersembunyi Megalitikum Batu Macan Abad XIV
SUMATERA SELATAN - Kabupaten Lahat, bukan hanya memiliki destinasi wisata alam nan cantik dan indah. Salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan ini juga memiliki wisata sejarah. Konon, peninggalan jaman kerajaan, Majapahit.

Salah satunya, megalitikum batu macan. Terdapat di Desa Pagar Alam Pagun Kecamatan Pulau Pinang. Konon, megalitikum mirip macan itu sudah ada sejak abad XIV. Di mana, batu macan tersebut dipercaya sebagai simbol bagi masyarakat setempat.

Penjaga perzinahan dan pertumpahan darah, simbolnya. Simmbol itu meliputi empat daerah. Seperti, Pagar Gunung, Gumai Ulu, Gumai Lembah dan Gumai Talang.

Penjaga situs megalitikum Idrus, berkisah batu macan tersebut tidak terlepas dari legenda masyarakat Sumatera Selatan. Si Pahit Lidah. Kala itu, Si Pahit Lidah diketahui tengah berjemur.

Di batu penarakan Sumur Tinggi, tepatnya. Ketika berjemur, Si Pahit Lidah melihat seekor macan betina. Kerap mengganggu masyarakat desa setempat. Lantas, Si Pahit Lidah mengingatkan agar macan tidak menggangu. Bahkan, peringatan sudah disampaikan, tiga kali.

Sayangnya, hal tersebut tidak diindahkan. Pada akhirnya, Si Pahit Lidah, sempat terlontarkan kata-kata, ''Ai, dasar batu kau ni,'' kisah Idrus, meniru ucapan si pahit lidah, sembari mengingat cerita terdahulu.

Usai melontarkan perkataan tersebut, macan pun secara tiba-tiba menjadi batu. Konon, dua macan tersebut, macan pezinah. Di mana megalitikum batu macan bagian depan merupakan macan betina, anak haram. Sementara di bagian belakang, macan jantan yang ingin menerkam.

Dari legenda itu, sampai Idrus, jika ada pasangan bukan muhrim kedapatan berbuat hal-hal senonoh. Maka, pasangan itu musti membayar denda adat. Mulai dari membayar satu ekor kambing untuk dijadikan bersih kampung. Bahkan, pasangan itu mustu dikucilkan ke daerah pegunungan. 

''Jika ada perempuan yang mengandung atau hamil, lalu melahirkan harus membayar dengan satu ekor kerbau,'' jelas Idrus.


Kontributor: Fajri
Editor: Dwi Indah


Share this Article :

Berita Terbaru

Read More