Rekomendasi

Festival Omah Sawah, Bangun Martabat Pertanian dengan Seni Budaya

Minggu, 08 Juli 2018 : 11.38
SUKOHARJO - Penampilan tari perpaduan barong reog dan kuda lumping mewarnai pertunjukan seni budaya daerah bertajuk Festival Omah Sawah, hasil kolaborasi lintas komunitas dan lintas kampus di lapangan Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Sabtu (7/7/2018) malam.

Gelaran yang disebut bertujuan menggali kepedulian dan membangun martabat dunia pertanian ini, melibatkan pelaku seni dari berbagai unsur.

Mulai dari mahasiswa seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Padepokan Sekar Jagad, Sanggar Meta Budaya, hingga dukungan Ormas Nasional diantaranya, Ikatan Kebangsaan dan Bela Negara (Ikabana) RI.

Sesuai dengan temanya, pernak - pernak berbau pertanian khas pedesaan pun di tampilkan dalam acara ini. Dari penerangan berupa obor bambu yang mengelilingi area pertunjukan, hingga puluhan ikat bawang merah, tebu, padi, dan jagung, juga terlihat menghias gapura bambu pintu masuk lokasi.

Tak ketinggalan, gapura juga diapit  'memedi sawah' (figur manusia terbuat dari jerami untuk menghalau / menakut - nakuti burung), lengkap dengan topi khas petani yang biasa disebut 'Caping'.

"Di desa Bakalan ini selain masih banyak lahan persawahan, juga dikenal sebagai daerah penghasil bawang merah. Bahkan petani bawang merah disini, sering diundang dalam kegiatan penyuluhan oleh Dinas Pertanian untuk membagikan ilmunya tentang bagaimana cara menanam bawang merah agar hasilnya bagus," kata Joko Ngadimin tokoh seni tradisional Soloraya, salah satu penggagas acara.

Joko yang juga pembina padepokan seni Sekar Jagad di Desa Bakalan ini menyebutkan, tak hanya hasil pertanian saja yang di gunakan sebagai properti dekorasi, namun beberapa pertunjukan juga menggunakan alat musik tradisional yakni, musik bambu, dan gejog lesung.

Gejog lesung merupakan seni musik klasik dengan menggunakan alat pemisah padi tradisonal berupa, kayu berongga ditengah mirip perahu yang biasa untuk wadah padi, kemudian dipukul - pukul oleh beberapa perempuan mengikuti harmoni lantunan tembang jawa menggunakan 'alu' terbuat dari kayu panjang.

"Ini merupakan sebuah bentuk silahturahmi antara pelaku seni dengan masyarakat pertanian di desa, sebagai ungkapan untuk  menghargai hasil jerih payahnya dalam mempertahankan tanah sawah dengan menekuni dunia pertanian," tandas Joko.

Sementara, Ketua Ikabana RI, Sri Eko Galgendu, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan Festival Omah Sawah yang sukses menyedot  antusiasme warga desa yang datang hingga memenuhi tempat acara.

"Omah artinya rumah, Sawah adalah tanah tempat tumbuhnya padi. Jadi definisi omah sawah  kalau di pertanian adalah gubug kecil tempat istirahat petani yang berada di tengah sawah. Sama halnya acara ini, dengan pentas seni tradisional kedamaian suasana desa sangat terasa," ungkapnya.

Eko berharap, dengan kegiatan seni di desa, setidaknya jika dikelola dengan baik akan banyak membawa manfaat, terutama bagi generasi muda yang enggan menekuni dunia pertanian.

Artinya, kehidupan di desa menurut Eko tak harus melulu terjun ke sawah bercocok tanam. Dibutuhkan sinergi antara generasi muda dengan ilmunya untuk membangun pertanian dengan teknologi yang lebih maju.

"Dan tentu jangan sampai kemajuan teknologi itu meninggalkan tradisi luhur warisan nenek moyang kita. Tradisi itu tetap harus kita jaga. Seperti kegiatan Festival Omah Sawah ini, saya menilai juga bagian dari menjaga tradisi itu," pungkasnya.


Kontributor: Sapto Nugroho
Editor: Dwi indah
Bagikan :

Video: Detik-detik Ledakan di Parkir saat Debat Capres ke-2 Berlangsung

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Read More

Our Partners