Rekomendasi

Menjaga Asa Anak Penderita Thalassemia di Hari Anak Nasional

Minggu, 22 Juli 2018 : 09.48
SUKOHARJO - Bermain adalah ciri khas anak untuk melatih tumbuh kembang. Dengan bermain, sebenarnya mereka sedang mempelajari sesuatu. Hal itu juga berlaku bagi anak - anak penderita Thalassemia.

Meski kesehatan hidup mereka sangat bergantung dengan terapi obat dan transfusi darah, namun itu tak menghalangi semangatnya untuk dapat bermain dan bergembira bersama. Seperti terlihat di Aula Rumah Sakit Indriati, Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu, (21/7/2018).

Dengan didampingi orang tua masing - masing, anak - anak penderita Thalassemia ini, walaupun sedikit canggung terlihat larut membaur saat diajak bermain dan menyanyi bersama.

Mereka sengaja di undang manajemen RS Indriati dalam acara peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018, dimana secara resmi oleh Pemerintah Indonesia diperingati tiap tanggal 23 Juli.

"Acara bertajuk “Kita dan Thalassemia” ini kami selenggarakan khusus, dengan mengundang anak penderita Thalasemia dari, Solo, Wonogiri, Boyolali, Sragen, Sukoharjo dan wilayah sekitarnya,"terang Direktur RS Indriati, Imelda Tandiyo.

Kehadiran bintang tamu Michelle Kunhle yang disambut hangat anak - anak, setidaknya telah membuat suasana rumah sakit yang biasa tenang menjelma seperti taman bermain.

"Sesuai tema HAN tahun ini, yakni, GENIUS, (Gesit, Simpati, Berani, Unggul dan Sehat), kami berharap agar anak - anak penderita Thalasemia juga ikut merasakan semangat itu (peringatan HAN)," kata Imelda.

Dalam acara ini, Imelda juga memperkenalkan layanan terbaru RS Indriati bagi penderita Thalassemia. Kepada orang tua yang hadir mendampingi buah hatinya, oleh manajemen, mereka diajak melihat ruang layanan yang berada dilantai 11.

Dipaparkan Imelda, pola penyakit masyarakat Indonesia dalam kurun waktu 25 tahun telah mengalami perubahan. Di era 90an angka kematian tertinggi diketahui berasal dari penyakit menular.

Namun, pada Tahun 2015 angka kematian tertinggi justru berasal dari penyakit tidak menular (PTM) atau Noncommunicable Diseases.

Data dari World Health Organization (WHO) Tahun 2012 menunjukkan, bahwa dari 56 juta kematian yang terjadi di dunia, sebanyak 38 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh PTM.

"Secara umum PTM dapat disebabkan oleh aspek genetik, psikologi, lingkungan dan kebiasaan. Adapun penyakit genetik yang terbanyak di Indonesia sekarang ini salah satunya adalah Thalassemia," katanya.

Thalassemia adalah suatu kelainan genetik darah dimana terjadi ketidakseimbangan produksi globin yang akan mengakibatkan anemia dengan berbagai derajat keparahan.

Data dari Perhimpunan Orangtua Thalassemia Indonesia (POPTI) Pusat, penderita penyakit yang belum ditemukan obatnya ini, pada Tahun 2017 di Indonesia jumlahnya mencapai angka 8031 orang.

"Untuk itu, terapi suportif dengan pemberian transfusi darah yang teratur dapat mengurangi komplikasi anemia dan eritropoesis yang tidak efektif. Ini juga membantu pertumbuhan dan perkembangan selama masa anak-anak serta memperpanjang harapan hidup," pungkasnya. 

Kontributor: Sapto Nugroho
Editor: Rahayu
Bagikan :

Video: Detik-detik Ledakan di Parkir saat Debat Capres ke-2 Berlangsung

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Read More

Our Partners