Rekomendasi

Watak Duryudono dan Sengkuni Tidak Cocok Hidup di Indonesia

Selasa, 24 Juli 2018 : 20.24
Published by Hariankota
YOGYAKARTA - Pentas seni tradisi seperti pergelaran wayang kulit semalam suntuk bisa jadi pilihan hiburan rakyat dan wisatawan yang tengah berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nuryanto, warga Kasihan Bantul menyatakan masyarakat Jogja menyambut baik rencana pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang diselenggarakan DPRD DIY dengan mengambil lakon Duryudono gugur, oleh Ki Seno Nugroho di halaman DPRD DIY


"Lakon Duryudono Gugur mengingatkan kita agar selaku awas dan waspada pada watak dan perilaku Duryudono yang didukung Sengkuni dengan watak licik, culas, angkuh dan pengadu domba, mirip seorang sosok elit politik yang mengadu domba bangsa dengan terminologi partai Allah dan partai setan, " kata Nuryanto, Selasa (24/7/2018).


Kegiatan dalam bentuk pentas budaya seni tradisi wayang kulit,  selama ini memang masih banyak dilestarikan oleh anak muda. Melalui toko wayang yang dimainkan ada beragam pitutur atau nasehat dalam bungkus pentas wayang.

"Watak Duryudono dan Sengkuni dalam pewayangan tampaknya ada  kenyataan di mana ada seorang elit politik yang senang bikin ulah, mengujarkan kebencian dan juga berwatak licik dan culas serta suka mengadu domba," kata Nuryanto.

Ahmad Baidlowi, warga Godean Yogyakarta menambahkan melalui pentas wayang,  rakyat atau penonton bisa juga belajar penokohan.

"Ada banyak kisah teladan, watak yang melekat pada Duryudono dan Sengkuni tidak cocok hidup di Indonesia, apalagi di Jogja yang menjunjung tinggi nilai nilai luhur seperti cinta persatuan dan kedamaian," kata Baidlowi.


Reporter: Prabowo
Editor: Rahayu
Share this Article :

Berita Terbaru

Read More