Rekomendasi

Keluarga Aktivis Terdakwa Penentang Limbah PT RUM Gelar Aksi Diam di Halaman PN Sukoharjo

Senin, 06 Agustus 2018 : 19.06
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Aksi diam (membisu - Red) dilakukan puluhan orang terdiri keluarga dan simpatisan tujuh aktivis, terdakwa kasus demo menentang dugaan pencemaran lingkungan oleh PT Rayon Utama Makmur (RUM) menjelang sidang vonis putusan.

Dengan duduk bersila hanya beralaskan sandal atau sepatu masing - masing. Selama sekira dua jam, dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB, mereka tak saling bicara, hanya diam di halaman kantor Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo, Senin (6/8/2018).

Aksi dibawah pengawalan ketat aparat polisi dari Polres Sukoharjo dibantu anggota TNI dari Kodim 0726/ Sukoharjo dilakukan demi ketujuh terdakwa yang terancam hukuman penjara rata - rata diatas empat tahun.

Mereka menuntut dalam sidang vonis yang akan digelar di PN Semarang, Selasa (7/8/2018) besuk, para terdakwa di bebaskan.

Melalui rilis yang dibagikan, disampaikan alasan kenapa para terdakwa layak mendapat vonis bebas. Diantaranya disebutkan, fakta-fakta di lapangan sudah membuktikan siapa dalang kegaduhan di Sukoharjo, siapa sumber masalahnya dan siapa yang menindas dan siapa yang ditindas.

Sambil membentangkan spanduk berisi ungkapan tuntutan, peserta aksi menuding Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Sukoharjo seolah menutup mata atas apa yang melatari kejadian demo yang berujung anarkis Februari silam.

Dimana saat itu para aktivis bersama warga memprotes dugaan pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah pabrik PT RUM di Desa Plesan, Kecamatan Nguter.

Koordinator lapangan (Korlap) aksi diam, Panji Akbar kepada hariankota.com mengatakan, aksi duduk tanpa bicara yang dilakukan selama sekira dua jam di halaman PN Sukoharjo bertujuan memperjuangkan kebebasan tujuh aktivis dari beratnya tuntutan hukuman penjara.

"Tuntutan jaksa terlalu berat, tidak mencerminkan rasa keadilan. Setelah ini, besuk (Selasa - Red) kami akan datang ke PN Semarang untuk mengawal jalannya sidang pembacaan vonis," paparnya.

Diketahui, lima dari tujuh aktivis merupakan terdakwa pelaku perusakan fasilitas PT RUM, terdiri, Mohammad Hisbun Payu (Iss), mahasiswa fakultas hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dituntut pidana 4 tahun 6 bulan penjara.

Sutarno dan Brillian dituntut 4 tahun penjara. Mereka dinilai terbukti melakukan tindak pidana sesuai pasal 170 ayat (1) jo pasal 55 KUHP.

Adapun dua terdakwa pelaku perusakan lainnya, Kelvin dan Sukemi dianggap terbukti melakukan tindak pidana pasal 187 ayat (1) dan Pasal 170 ayat (1) jo Pasal 55, dengan tuntutan pidana 4 tahun 6 bulan penjara.

Sedang dua aktivis lainnya, Bambang Wahyudi bersama Danang Tri Widodo oleh JPU didakwa bersalah sebagai pelaku ujaran kebencian dijerat pasal UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Sementara Ketua PN Sukoharjo, Bongbongan Silaban, enggan menanggapi aksi diam yang berlangsung di halaman kantornya. Dalihnya, lantaran tempat digelarnya peradilan para terdakwa tidak di PN Sukoharjo. Namun begitu, dirinya menghargai apa yang diperjuangkan warga.

"Ini kan nggak ada kaitannya dengan penanganan perkara di sini. Sidangnya sendiri kan di PN Semarang sana. Tapi kami menghargai mereka, tidak ada masalah," pungkasnya.

Kontributor: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi
Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More

Our Partners