Rekomendasi

Pasokan Berkurang, Solar Bersubsidi di Soloraya Makin Sulit Ditemui

Senin, 03 September 2018 : 17.57
SOLO - Setelah Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium tak ada lagi di pasaran, kini sejumlah konsumen solar bersubsidi di Solo Raya, sejak beberapa minggu terakhir mulai kelimpungan mencari.

Kelangkaan bahan bakar yang banyak di gunakan pada moda transportasi umum ini terjadi lantaran ada pengurangan jatah volume yang di kirim dari Depo Pertamina ke sejumlah SPBU di Solo Raya.

Hal itu diungkapkan Ketua Lembaga Penyelamat Aset dan Anggaran Belanja Negara (Lapaan) RI, Kusumo Putro kepada awak media saat jumpa pers, di Manahan, Solo, Senin (3/9/2018).

"Temuan (kelangkaan) ini kami ketahui dari hasil investigasi selama satu minggu ke sejumlah SPBU di Solo Raya, menindaklanjuti laporan masyarakat," paparnya.

Disebutkan Kusumo, selain merugikan pengusaha transportasi umum dan angkutan barang, kelangkaan juga merugkan pengusaha industri skala kecil, diantaranya, usaha penyulingan alkohol di daerah Bekonang, Sukoharjo.

"Mereka mengatakan (konsumen-Red), kelangkaan solar bersubsidi sudah berlangsung sejak awal bulan Agustus lalu. Kalaupun ada, pihak SPBU memberlakukan pembatasan pembelian," sebutnya.

Dari data yang diperoleh Lapaan RI, rata-rata SPBU di Solo Raya menjual solar 3 kiloliter /hari. Sedangkan jatah yang kini diberikan oleh Pertamina hanya 8 kiloliter untuk 3 hingga 4 hari.

"Pihak SPBU mengatakan, oleh Pertamina stok pengiriman solar hingga beberapa hari kedepan akan berkurang dari biasannya. Pada hari ini saja, kami mendapati beberapa SPBU sudah kehabisan solar, yakni, SPBU Tempen Boyolali, SPBU Sekarpace Solo, dan SPBU Pucangsawit Solo," sebutnya.

Kondisi itu juga terjadi di SPBU Palur, Karanganyar dan SPBU Baki, Sukoharjo. Para pengelola mengaku sudah lama mendapat kiriman jatah pasokan hanya separo dari biasanya. Begitu kiriman datang, tak butuh waktu lama langsung habis.

"Kejadian ini, sama seperti saat Pertamina akan menghilangkan premium dari pasaran. Dan anehnya, jika solar habis, pihak SPBU dilarang memasang papan pengumuman yang bertuliskan solar habis. Ini kan, seperti menggiring konsumen agar mau membeli BBM non subsidi," ujarnya.

Kusumo menduga, kondisi langkanya solar bersubsidi merupakan upaya Pertamina perlahan - lahan akan mengganti dengan Solar jenis Dex yang harganya Rp 10.500 /liter dan dexlite yang harganya Rp 9000 /liter.

"Kami minta, Pertamina harus dapat menjelaskan kondisi yang sebenarnya kepada publik secara transparan, agar masyarakat tidak dirugikan. Dan, kami sudah mencoba meminta penjelasan dengan datang ke Depo Pertamina di Boyolali. Namun tidak ada tanggapan," tandas Kusumo.

Salah satu pengelola SPBU Tempen Boyolali nomor 44 57 09, Fahrudin, yang disebut Kusumo mengalami kekosongan stok solar bersubsidi, saat di konfirmasi membenarkan bahwa stok solar bersubsidi di tempatnya memang habis.

"Ini terjadi karena ada pembatasan pengiriman solar bersubsidi dari pertamina yang sudah berlangsung sejak pertengahan Agustus lalu. Dan disusul, mulai 1 September, sistem kitir (penjatahan) mulai diberlakukan," terangnya.

Sebelumnya, ungkap Fahrudin, pihaknya mendapatkan Solar sebanyak 8 kiloliter /hari. Namun saat ini jatah itu menyusut menjadi 8 kiloliter untuk 2 hingga 3 hari.

Dengan kondisi tersebut pihak SPBU terpaksa membatasi penjualan solar bersubsidi. Dimana untuk kendaraan yang memiliki roda lebih dari enam, seperti bus dan truk tronton pembatasan pembelian diberlakukan.

"Seperti truk tronton itu kami batasi solarnya hanya dapat 200 liter - 300 liter saja," ungkapnya.

Hal yang sama juga terjadi di SPBU Tanjunganom - Baki, Sukoharjo nomor 44 575 14. Dari pantauan hariankota.com, terlihat beberapa mobil angkutan barang terpaksa harus rela menunggu datangnya truk tanki pengangkut BBM yang sedang dalam perjalanan memasok solar bersubsisdi.

"Kami biasanya mendapat jatah 16 ribu liter solar bersubsidi, tapi sejak satu bulan terakhir hanya dikirim 8 ribu liter saja. Infonya, pengurangan jatah karena solar bersubsidi akan di cabut," kata salah satu petugas SPBU yang enggan disebut namanya.

Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication Relation JBT dan DIY Pertamina, Andar Titi Lestari mengatakan, pasokan solar bersubsidi sudah sesuai dengan kebutuhan rata-rata normal supply kepada konsumen pengguna melalui SPBU di seluruh Soloraya.

"Yang mana kebutuhan rata-rata normal Januari hingga Mei sebesar 604,9 Kiloliter. Pada bulan Juli ada peningkatan konsumsi yang sangat tinggi yaitu mencapai 760,5 kiloliter," terangnya saat di hubungi melalui pesan singkat Whatsapp.

Adanya peningkatan konsumsi sehingga timbul kenaikan yang tajam sebesar 26 persen. Namun, Pertamina tetap menyalurkan kebutuhan solar bersubsidi sesuai dengan kondisi normal Januari hingga Mei.

Andar menyebut tidak ada pembatasan, tapi Pertamina menyediakan solar bersubsidi sesuai dengan normalnya pembelian di bulan januari hingga Juni.

"Tidak ada solar bersubsidi habis, karena kami tetap menyediakan dexlite dan pertamina dex. Sebagai informasi, bahwa solar itu adalah barang bersubsidi, sehingga ada kuota yang harus di patuhi agar subsidi pemerintah tidak semakin membengkak dan penggunaannya pun bisa lebih tepat sasaran," imbuhnya.

Kontributor: Sapto Nugroho
Editor: Rahayu
Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners