Rekomendasi

Berkas Edu Park Jilid II Lengkap, Kajari Karanganyar: Sejak Awal Pengadaan Pesawat Tidak Beres

Rabu, 03 Oktober 2018 : 15.56
Published by Hariankota
Berkas Edu Park Jilid II Lengkap, Kajari Karanganyar: Sejak Awal Pengadaan Pesawat Tidak Beres (Foto:Iwan Iswanda/hariankota)
KARANGANYAR - Kasus dugaan penyelewengan pengadaan tiga unit pesawat di lokasi wisata edu park, memasuki babak baru. Setelah sempat bolak-balik dari penyidik Polres Karanganyar ke Kejaksaan Negeri (Kejari), akhirnya berkas kasus edu park jilid dua dengan lima orang tersangka, dinyatakan lengkap pada atanggal 25 September 2018 lalu.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karanganyar, Suhartoyo, kepada hariankota.com, Rabu (03/2018), mengatakan, dalam kasus edu park jilid dua ini, ada lima orang tersangka yang berasal dari kelompok kerja (Pokja) pengadaan pesawat.

Kelima tersangka mini dijerat dengan pasal 2 dan 3 UU 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi sebagaimana yang tekah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001, dengan ancaman minimal 4 tahun penjara.

“Berkas sudah kita nyatakan lengkap dengan lima orang tersangka, yakni I dan kawan-kawan dari Pokja pengadaan pesawat. Selanjutnya, kami menunggu penyidik untuk penyerahan tanggung jawab tersangka serta barang bukti. Soal kapan penyerahan, saat ini kita sudah kita koordinasikan dengan tim penyidik Polres Karanganyar,” kata Kajari, Rabu (03/10/2018).

Dijelaskan Kajari, kasus pengadaan pesawat ini, dari awal sudah tidak benar. Berbagai persyaratan tidak dipenuhi, salah satunya syarat keahlian.

“Dalam pengadaan kan harus ada peratuuran presiden. Ini tidak dilengkapi, tenaga ahli juga tidak dilengkapi. Karena dari awal sudah tidak jelas, maka sampai sekarang, belum ada penyerahan hasil pekerjaan,” ujar Kajari.

Kajari juga mengungkapkan, jika pengadaan pesawat untuk edukasi ii juga tidak jelas.

“Kalau untuk edukasi, edukasi yang seperti apa. Jika kebutuhan untuk kepentigan umum, seperti manasik haji, tentu semua harus normal. Untuk bawa pesawat juga tidak mungkin mendarat di Karanganyar, tentu harus ada bongkar pasang. Kalau ada bongkar pasang, tentu harus ada tenaga ahli. Ini kan tidak seperti itu,” tandas Kajari.

Ditambahkannya, pengadaan jenis juga mereka tidak tahu. Dalam kontrak awal pesawat boeing 737 200. Tapi dalam pengadaannya boeing 737 300.

“Mereka bekerja tidak mengerti, kenapa memaksakan. Hanya satu kontraktor yang bisa melaksanakan. Jika semua dilaksanakan normal, panitia menyatakan ada pemenang, ya sudah, mereka tidak ada masalah. Ini dari awal sudah tidak benar, terutama ada mark up, mereka harus bertanggung jawab,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kasus ini bermula ketika Pemkab Karanganyar membangun wisata pendidikan (edu park) di lokasi kolam renang Intanpari tahun 2014 lalu. Di lokasi wisata pendidikan tersebut, dilengkapi dengan tiga unit pesawat, masing-masing dua unit helikopter bekas dan satu unit pesawat Boeing 727 Air Bus 200, dengan total anggaran Rp2 miliar.

Penyidik Sat reskrim Polres Karanganyar menetapkan 8 tersangka dalam kasus ini. Tiga orang terdakwa telah menjalani proses hukum di Pengadilan Tipikor Semarang.

Ketiga terdakwa, masing-masing, Purwono, divonis 1 tahun penjara serta denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan, sedangkan Berdy dan Syarifuddin yang merupakan rekanan pengadaan pesawat divonis 1 tahun 3 bulan penjara, denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Penulis: Iwan Iswanda
Editor: Gunadi

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More

Our Partners