Rekomendasi

Melihat dari Dekat Musium Gempa Yogyakarta di Cepokosawit Boyolali

Sabtu, 06 Oktober 2018 : 18.47
Published by Hariankota
Melihat Dari Dekat Musium Gempa Yogyakarta di Cepokosawit Boyolali (Foto: Sapto Nugroho/hariankota)
BOYOLALI - Bencana gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakan Palu, Donggala dan Sigi di Sulawesi Tengah (Sulteng) mengingatkan akan kedasyatan bencana serupa yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006.

Kedasyatan gempa yang terjadi pada tahun 2006 lalu terekam seluruhnya dalam bidikan kamera yang tersimpan rapi di Monumen Gempa Cepokosawit di Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Boyolali.

Di Museum ini, berbagai barang - barang milik warga yang menjadi korban seperti perkakas rumah tangga, kepingan bagian bangunan rumah yang semuanya hancur tersimpan rapi di Museum.

Kepala Pembangunan Monumen Gempa Bumi Cepokosawit, Soekoyo, kepada hariankota.com mengatakan, pembangunan monumen dan Museum ini tujuannya untuk pengingat bahwa gempa bumi pernah terjadi di wilayahnya.

"Selain itu, monumen yang sejak tanggal 29 September kemarin sudah dilengkapi seismograf oleh BMKG ini, dibangun juga untuk mengusir trauma, bangkit dari penderitaan dan menumbuhkan kewaspadaan terutama bagi generasi muda sekarang," terang Soekoyo, Sabtu (6/10/2018).

Menurut Soekoyo kewaspadaan yang dimaksud salah satunya adalah, disaat akan mendirikan bangunan, warga desa diharapkan memperhatikan kontruksinya, setidaknya bisa menyesuaikan dengan merancang kontruksi anti gempa.

Selama proses pembangunan monumen yang tepat berada ditengah sawah ini,ungkap Soekoyo, warga secara mandiri gotong royong melakukan iuran, baik yang masih tinggal di desa maupun mereka yang berada di perantauan di berbagai daerah.

"Desain monumen berupa batu menjulang semula dirancang setinggi 9 meter, namun mengingat seringnya ada kejadian gempa di beberapa daerah, akhirnya tinggi monumen diturunkan menjadi 7 meter," ungkapnya.

Seperti bangunan monumen pada umumnya, beberapa bagian monumen gempa bumi cepokosawit juga memiliki filosofi, misalnya, angka 2006 di ujung atas sebagai penanda tahun terjadinya gempa, sedangkan bola dunia atau bumi diartikan sebagai gempa bumi.

Sementara, tanggal kejadian dilambangkan dengan 27 lembar daun di bagian sayap kanan - kiri monumen, disusul bulan kejadian digambarkan melalui lima buah bulatan di bawah bola dunia. Sedangkan lima kotak segi empat yang berada disayap monumen merupakan gambaran waktu atau jam terjadinya gempa.

"Pembangunan monumen dimulai tanggal 17 Februari 2014 dan diresmikan 4 April 2016 lalu bertepatan peringatan sepuluh tahun gempa bumi 2006. Adapun untuk bangunan museum dibangun baru saja menyatu dengan situs Gajah Putih yang berada tepat di barat monumen," paparnya.

Berdirinya monumen gempa di cepokosawit, Boyolali ini sangat tepat sebagai pembelajaran mitigasi kebencanaan untuk para siswa sejak dini.

Terutama di wilayah yang masuk dalam wilayah rawan bencana. Sebab itulah sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) terlihat serius menyimak penjelasan seorang pemandu saat mereka belajar memahami bencana gempa bumi usai gelar do'a bersama di Monumen Gempa.

Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Rahayu

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More