Rekomendasi

Melihat Jejak Kesultanan Kutai Kartanegara di Museum Mulawarman

Jumat, 12 Oktober 2018 : 17.20
Published by Hariankota
Melihat Jejak Kesultanan Kutai Kartanegara Di Museum Mulawarman (Foto: Sapto Nugroho/hariankota)
SAMARINDA - Menyebut Kalimantan Timur (Kaltim) sepertinya tak bisa lepas dari keberadaan Museum Mulawarman tempat menyimpan benda - benda bersejarah dengan nilai seni tinggi yang berada di pinggir Sungai Mahakam, Tenggarong, sekira 39 kiilometer dari Kota Samarinda ibukota provinsi.

Bangunan museum ini menempati bekas istana Sultan Kutai Kartanegara, berdiri megah tak jauh dari kantor pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara yang terkenal sebagai wilayah kaya akan hasil batubara dan minyak buminya.

Dalam sebuah kesempatan menyertai kunjungan kerja (kunker) rombongan Pemkab Sukoharjo bersama Komisi I dan IV DPRD Sukoharjo di tiga kota, yakni, Bontang, Samarinda dan Kutai Kartanegara, selama lima hari, Senin-Jum'at (8-12/10/2018), hariankota.com tak ketinggalan turut menjelajah isi museum.

Sepasang kursi bergaya Eropa terbuat dari kayu yang disebut merupakan Singgasana peninggalan jaman Kesultanan, menjadi benda pertama menyambut pandangan mata pengunjung sebelum kedalam melihat beberapa koleksi lainnya.

Kasran, seorang pemandu wisata museum, kepada rombongan menjelaskan, Singgasana berlapis kapuk berbungkus kain berwarna kuning yang membalut kursi dirancang oleh seorang Belanda bernama Ir. Vander Lube pada tahun 1935.

Tak hanya itu, dua arca Lembu Swana lambang Kesultanan Kutai yang dibuat di Burma pada tahun 1850, dan konon baru tiba pada 1900, juga terlihat di kanan kiri Singgasana berlatar dua mozaik gambar Sultan Kutai Kartanegara ke-17 AM Soelaiman, dan Sultan Kutai Kartanegara ke-18 AM Alimoeddin.

"Arca Lembu Swana diyakini sebagai kendaraan tunggangan Batara Guru. Nama lainnya adalah Paksi Liman Janggo Yoksi, yakni, Lembu yang bermuka gajah, bersayap burung, bertanduk seperti sapi, bertaji dan berkukuh seperti ayam jantan, berkepala raksasa serta dilengkapi pula dengan berbagai jenis ragam hias yang menjadikan patung ini terlihat indah," tuturnya.

Selain itu, di ruang depan juga ada lukisan Sultan AM Parikesit, dan payung kebesaran Kesultanan serta tiga buah patung perunggu buatan Eropa.

Setelah melewati ruang depan, diruang tengah, puluhan patung kepala figur mantan Gubernur Kaltim dari yang pertama hingga yang terbaru, terlihat berjajar menghadap arah depan, dan tak jauh diatasnya setelah tanggal undakan terdapat seperangkat gamelan lengkap berserta wayang kulit buatan Yogyakarta.

Berbagai benda bersejarah lainnya seperti, yang berkaitan dengan Suku Dayak, suku asli Kalimantan, yakni, Ulap Doyo, sejenis alat tenun tradisional khas buatan masyarakat Dayak juga melengkapi koleksi museum.

Dan yang tak kalah menariknya adalah beberapa diorama rumah - rumah adat serta kegiatan pertambangan dari yang menggunakan alat tradisional hingga modern makin membuat pengunjung kagum atas begitu banyaknya keanekaragaman budaya yang tersimpan didalam museum ini.

"Dulunya, gedung yang digunakan sebagai museum ini merupakan bekas istana Kutai Kertanegara yang dibangun pada tahun 1963 peninggalan jaman kolonial," terangnya Kasran melalui megaphone.

Ditemui usai berkeliling museum, Asisten II Bidang Pembangunan, Sekda Kabupaten Sukoharjo, Widodo, mengungkapkan kekagumannya terhadap upaya pemerintah daerah setempat dalam menjaga warisan budaya leluhurnya.

Dari kunjungan ini, Widodo mengatakan, sangat mungkin Sukoharjo yang memiliki benda - benda peninggalan sejarah mulai artefak jaman Kraton Kartasura dan Kraton Pajang, membangun sebuah gedung untuk mengumpulkan seluruh benda - benda bersejarah dalam satu tempat.

"Saat ini, benda - benda itu, sebagian tersimpan di kampus Univet Sukoharjo. Kami sudah lama berpikir ke arah sana (membangun museum), paling tidak ada tempat tersendiri yang peruntukannya khusus menyimpan benda - benda bersejarah,' katanya.

Menurut Widodo, apa yang didapat selama kunker akan dijadikan bahan pertimbangan sejalan dengan program Kementrian Koodinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang telah menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) tentang rencana aksi kebudayaan bagi semua daerah di Indonesia.

"Sebagai implementasi Permen PMK, Disdikbud Sukoharjo sudah menyusun program tentang rencana aksi kebudayaan tersebut, dan telah dituangkan melalui SK Bupati. Tinggal nanti disosialisasikan saja," pungkasnya.

Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Dwi Lestari

Share this Article :

Berita Terbaru

Read More