Rekomendasi

Terungkap, Begini Kronologi Tewasnya Remaja Putri Dibawah Umur Berselimut Lumpur Sawah

Rabu, 24 Oktober 2018 : 16.19
Terungkap, Begini Kronologi Tewasnya Remaja Putri Dibawah Umur Berselimut Lumpur Sawah (Foto:Sapto Nugroho/hariankota)
SUKOHARJO - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sukoharjo menggelandang IA (17) warga Desa Gentan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo tersangka pelaku pembunuhan remaja putri dibawah umur, Retno Ayu Wulandari (14) warga Rusunawa Begalon II RT 02 / RW 08 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.

Peristiwa sadis yang dilatari emosi lantaran keinginan tersangka mengajak korban berhubungan intim ditolak ini, semula setelah mengetahui korban roboh akibat pukulan balok kayu di bagian kepala, dilaporkan penyebabnya karena kecelakaan tunggal.

Hal itu diungkap Kasatreskrim Polres Sukoharjo, AKP Rifeld Constantin Baba mewakili Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi saat rilis pengungkapan kasus di Mapolres, Rabu (23/10/2018) dengan menghadirkan tersangka pelaku beserta barang bukti kejahatan.

Kasus pembunuhan ini diawali pada Kamis (18/10/2018) sekira pukul 18.00 WIB. Ketika itu, korban yang belum lama putus sekolah kelas 1 SMP akibat ketiadaan biaya ini dijemput pelaku untuk diajak nongkrong di salah satu rumah teman pelaku bernama Anggata di daerah Gatak.

Seperti dituturkan Rifeld, saat itu tersangka mengajak korban minum minuman beralkohol (mihol), namun korban menolak. Kemudian sekira pukul 22.00 WIB, pelaku bersama teman lainnya lagi, bernama Henry lantas mengajak korban berpindah tempat nongkrong di pinggir jalan tak jauh dari penggilingan padi Desa Trosemi, Kecamatan Gatak.

"Disana (dekat penggilingan padi) pelaku mengajak korban berhubungan intim namun ditolak korban. Akibat penolakan, pelaku emosi dan lantas mengambil batang kayu dengan panjang sekira 1 meter untuk kemudian digunakan memukul korban mengenai pelipis sebelah kiri," terang Rifeld.

Tak puas sampai disitu, korban kemudian dibawa ke tempat yang lebih sepi, di tengah sawah yang berjarak sekira 1 km dari penggilingan padi dengan dibonceng sepeda motor matik warna merah putih nopol AD 2273 ALB. Dan, kembali pelaku mengajak korban berhubungan intim, namun lagi-lagi korban tetap menolak.

Dibakar emosi tinggi lantaran keinginannya selalu ditolak, pelaku kembali menganiaya korban dengan memukulkan sebatang balok kayu yang kebetulan ada di lokasi sebanyak 3 kali. Akibat pukulan balok kayu tepat mengenai kepala bagian belakang, korban yang terluka parah langsung roboh tak sadarkan diri.

Melihat kondisi itu, pelaku yang panik sempat hendak membawa korban dengan menaikkan ke atas sepeda motor, namun upaya yang berulang kali dilakukan tersebut tak berhasil. Tubuh korban selalu jatuh dari sepeda motor.

Oleh pelaku, korban akhirnya begitu saja ditinggalkan di pinggir jalan dekat persawahan, sedangkan pelaku mendatangi temannya (Hendry) yang masih nongkrong di tempat semula, dekat penggilangan padi.

“Kepada temannya, pelaku mengaku mengalami kecelakaan lalulintas bersama korban. Saksi Hendry lantas memberitahu beberapa saksi lainnya dan selanjutnya membawa korban ke Rumah Sakit Dr Oen di Solo Baru. Total ada sembilan saksi,” ungkap Rifeld.

Dikatakan Rifeld, sesaat setelah korban tiba di rumah sakit, pelaku menyusul dan mengetahui korban sudah meninggal dunia. Oleh anggota Satlantas yang datang ke rumah sakit setelah mendapat pemberitahuan muncul kecurigaan, dan langsung menghubungi Satreskrim Polres.

“Jadi awalnya diakui (dalam laporan) sebagai kecelakaan lalulintas. Petugas Satlantas curiga dengan luka korban hingga akhirnya menahan pelaku,” ujar Kasatreskrim.

Setelah keluar hasil visum dari rumah sakit. Pelaku yang juga merupakan masuk kategori residivis atas sebuah kasus di Kota Solo ini akhirnya diamankan petugas hingga akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Mengingat pelaku dan korban masuk kategori anak-anak, maka penyidik polres menjerat dengan Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76C UU RI No 35/2014 tentang Perubahan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman penjara paling lama 10 tahun.

“Jadi, masuknya ke anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Meski masih anak-anak, pelaku ternyata pernah berkasus di Kota Solo sehingga bisa dikatakan residivis,” imbuh Rifeld.

Penulis: Sapto Nugroho

Editor: Gunadi

Bagikan :

Video Viral

Saat ini 0 komentar :

Berita Terbaru

Selengkapnya

Our Partners