Rekomendasi

Antisipasi Faham Radikal, Kesbangpol Kumpulkan Pimpinan Ponpes, Tokoh dan Ormas Lintas Agama

Rabu, 14 November 2018 : 20.07
Published by Hariankota
Antisipasi Faham Radikal, Kesbangpol Kumpulkan Pimpinan Ponpes, Tokoh Dan Ormas Lintas Agama (Foto: Sapto Nugroho/hariankota)
SUKOHARJO - Banyaknya permasalahan yang terjadi pada bangsa Indonesia diantaranya, faham radikal yang menyoal tentang Pancasila sebagai pandangan hidup dalam bernegara menjadi materi utama dalam acara Halaqah yang dihadiri pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes), tokoh dan ormas lintas agama se Kabupaten Sukoharjo, di pendopo Graha Satya Praja komplek Setda Sukoharjo, Rabu (14/11/2018).

"Ini adalah negara yang bukan hanya milik satu kaum saja, negara kita banyak terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya. Indonesia bukanlah negara arab, tetapi Indonesia juga bukan negara agama," papar Ustad Amir Mahmud pembicara Halaqah, Dosen UNU Surakarta yang juga penulis buku Fenomena Gerakan Jihad.

Menurut Amir,munculnya istilah Pancasila harga mati, lebih karena didasari kehidupan bangsa dan negara ini berideologi Pancasila. Selain itu juga karena adanya trauma sejarah munculnya gerakan Islam Indonesia yang ingin menanamkan nilai-nilai ideologi Islam di Indonesia.

"Dan itu sudah terjadi dan ada yang namanya DI TII, kemudian berkembang ke Aceh dipimpin oleh Daud Beureuh, kemudian berkembang lagi sampai di Sulawesi dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Faktor yang hari ini menjadi cermin dalam pergerakan nasional (Pancasila sebagai jalan hidup berbangsa / Way Of Life) pertama adalah Ir Soekarno," sebutnya.

Dikatakan Amir, perbedaan bagaimana cara memahami pancasila itu sudah ada sejak dulu. Misalnya, pada masa perjuangan HOS Cokroaminoto dalam menghadapi perubahan perubahan sosial paham negara Islam Indonesia. Kemudian Soekarno dengan nasionalisme mengggunakan kata ideologi Pancasila.

"Pancasila adalah yang mengatur mengenai perkembangan perkembangan agama di negeri kita, yang kemudian di jadikan sebagai ideologi terbuka dan ideologi bangsa kita. Memahami mengenai kebangsaan, maka semua rela berkorban untuk kepentingan bangsa," tandasnya.

Pantauan hariankota.com, ada hal menarik dalam sesi tanya jawab dimana seorang peserta menanyakan alasan begitu bersemangatnya Ustad Amir Mahmud bicara soal Pancasila sebagai ideologi negara, padahal dulu dikenal gencar menyuarakan faham ISIS.

"Dulu saya bukan ISIS tetapi pendukung Daulah, dan situasi belum seperti saat ini, karena saya seorang akademisi. Justru saya harusnya mendapat penghargaan karena banyaknya pendukung Daulah yang tertangkap," jawab Ustad Amir.

Kepala Kantor Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Sukoharjo, Gunawan Wibisono menyampaikan, dalam acara Halaqoh atau silahturahmi lintas agama dan elemen anak bangsa ini, tujuannya untuk penguatan karakter kebangsaan dalam menjaga eksistensi Pancasila ditengah gelombang radiklaisme dan terorisme.

"Yang kami undang sekira 300 peserta terdiri pimpinan ponpes se Kabupaten Sukoharjo, perwakilan ormas keagamaan, ormas pemuda, pengurus FKUB, dan pengurus PKUB (setingkat kecamatan). Acara ini sekaligus sebagai pembekalan kepada pemuda dalam memahami pentingnya menjaga eksistensi Pancasila," pungkasnya.

Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Jumali

Share this Article :

Video Presiden Jokowi Bersama Keluarga Masuk ke Dalam Ka'bah Saat Ibadah Umroh

Berita Terbaru

Read More